PRILAKU PENCARIAN DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN INFORMASI (Bagian 2)

PRILAKU PENCARIAN DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN INFORMASI (Bagian 2)

Oleh    :           Encang Saepudin

 

 

 

 

F. PERILAKU PENCARIAN INFORMASI

            Krikelas (dalam Rosita, 2006: 16) berpendapat bahwa perilaku pencarian informasi adalah kegiatan dalam menentukan dan mengidentifikasikan pesan untuk memuaskan kebutuhan informasi yang dirasakan.  Pendapat lebih rinci dikemukakan oleh Drao yang dikutip oleh Luki Wijayanti (dalam Rosita, 2006: 17)  mengatakan perilaku pencarian informasi merupakan aktivitas pemakai untuk mencari, mengumpulkan, dan memakai informasi yang mereka butuhkan.

Dalam bukunya Putu Laxman Pendit (2003: 30 – 32) dijelaskan tentang sejarah penelitian perilaku informasi. Penelitian terhadap perilaku penemuan informasi sudah dimulai sejak lama di bidang perpustakaan, misalnya melalui berbagai survei di tahun 1916 di Inggris tentang bagaimana perpustakaan digunakan dan siapa saja yang menggunakannya.

            Penelitian yang mulai mengaitkan penggunaan informasi dengan kegiatan sehari-hari mulai dilakukan sejak konferensi yang diadakan the Royal Society Scientific Information tahun 1948 di Inggris. Tentu saja, yang terutama dikaji setelah itu adalah pola penggunaan informasi oleh para ilmuwan, tetapi penekanannya bukan pada si pengguna, melainkan pada jenis-jenis bahan pustaka apa yang paling dibutuhkan dan dicari oleh pengguna. Tujuan utama kajian-kajian di bidang ini adalah untuk mencari tahu bagaimana caranya mengefektifkan penggunaan bahan pustaka yang sudah dibeli dengan biaya besar, dan bagaimana para membujuk ilmuwan untuk lebih banyak menggunakan bahan pustaka.

            Baru sejak tahun 1960-an kajian yang semula terfokus kepada dokumen beralih kepada upaya memahami kebutuhan informasi. Salah satu penelitian yang dikutip Wilson adalah penelitian di Baltimore, Amerika Serikat, pada tahun 1972 yang berupaya memahami kebutuhan informasi penduduk kota itu. Penelitian ini dianggap patokan bagi sebuah penelitian kebutuhan informasi dalam skala besar untuk menjawab beberapa pertanyaan, seperti: Apa kebutuhan masyarakat perkotaan? Bagaiman kebutuhan ini terpuaskan? Apakah ada institusi yang dapat memenuhi kebutuhan ini secara lebih baik? Dalam survei inilah Dervin memulai upayanya membangun model konseptual yang mengaitkan kebutuhan informasi, sumber-sumber informasi yang diapaki, dan hambatan psikologis, intelektual maupun institusional yang menentukan tingkat kepuasan pemakai informasi. Kelak Dervin pula yang mengusulkan konsep sense making yang amat terkenal itu. 

a. Pengertian Penelitian Perilaku Pencarian Informasi

            Dalam tulisannya, Putu Laxman Pendit (2003: 28 – 30) mengulas tulisan Wilson (2000). Di kalangan peneliti ilmu informasi, Wilson dikenal sebagai pemerhati khusus perilaku pencarian informasi bersama dengan peneliti-peneliti lain seperti Dervin, Kuhlthau, dan ellis. Dalam artikelnya, Wilson berpendapat bahwa penelitian di kalangan perancang dan pembuat system informasi selama ini selalu menyamakan “kebutuhan informasi” dengan bagaiman seorang pemakai sistem berperilaku ketika ia berhadapan dengan sebuah system informasi. Pertanyaan utama yang menjadi masalah pokok dalam penelitian tentang pengguna sebuah sistem (misalnya, untuk membuat user interface) selama ini adalah “bagaiman seseorang menggunakan sebuah sistem informasi?”, dan bukan apa kebutuhan informasinya serta bagaimana perilaku pencarian informasinya dapat dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan lain dengan hidup seseorang.

            Untuk memperjelas batas kajian yang berkaitan dengan pengguna system informasi, Wilson menyajikan beberapa definisi, yaitu (Pendit, 2003: 29):

  1. Perilaku informasi (information behavior) yang merupakan keseluruhan perilaku manusia berkaitan dengan sumber dan saluran informasi, termasuk perilaku pencarian san penggunaan informasi baik secara aktif maupun secara pasif. Menonton TV dapat dianggap sebagai perilaku informasi, demikian pula komunikasi antar-muka.
  2. Perilaku penemuan informasi (information seeking behavior) merupakan upaya menemukan dengan tujuan tertentu sebagai akibat dari adanya kebutuhan untuk memenuhi tujuan tertentu. Dalam upaya ini, seseorang bias saja berinteraksi dengan sistem informasi hastawai (surat kabar, sebuah perpustakaan) atau berbasis-komputer (misalnya, www).
  3. Perilaku pencarian informasi (information searching behavior) merupakan perilaku di tingkat mikro, berupa perilaku mencari yang ditunjukkan sesorang ketika berinteraksi dengan sistem informasi. Perilaku ini terdiri dari berbagai bentuk interaksi dengan sistem, baik di tingkat interaksi dengan komputer (misalnya penggunaan mouse atau tindakan meng-klik sebuah link), maupun di tingkat intelektual dan mental (misalnya penggunaan strategi Boolean atau keputusan memilih buku yang paling relevan di antara sederetan buku di rak perpustakaan).
  4. Perilaku penggunaan informasi (information user behavior) terdiri dari tindakan-tindakan fisik maupun mental yang dilakukan seseorang ketika seseorang menggabungkan informasi yang ditemukannya dengan pengetahuan dasar yang sudah ia miliki sebelumnya.

Proses pencarian informasi adalah kegiatan pengumpulan informasi-sebagai-sesuatu yang kemudian diasimilasikan ke dalam struktur pengetahuan seseorang. Dari sini terlihat bagaimana teori-teori tentang kognisi menjadi bagian dari proses interaksi pemakai dengan sistem informasi, dan bagaiman struktur kognitif pemakai berubah oleh informasi yang ditemukan (Ingwersen dalam Pendit, 2003: 33).

b. Perilaku Pencarian Informasi dari Wilson (1996)

Ada beberapa model perilaku pencarian informasi, satu diantaranya adalah model Wilson (1981) (Budiyanto dalam Rosita, 2006: 20) yang disebut a model of information behavior. Model yang diperkenalkan oleh Wilson berdasarkan pada dua propisisi, yaitu:

1.            Bahwa kebutuhan informasi bukan kebutuhan utama taua primer, namun merupakan kebutuhan sekunder yang timbul karena keinginan untuk memnuhi kebutuhan dasarnya.

2.            Bahwa dalam usahanya menemukan informasi menghadapi hambatan (barries) sebagai variabel perantara (intervening variable), hambatan tersebut kemungkinan akan mempengaruhi perilakunya.

Di bawah ini merupakan model pencarian informasi dari Wilson (1996):

                                                                      

 

 

 

 

 

Gambar 2.3

 

Model diatas merupakan revisi dari model sebelumnya (1981) yang dikemukakan oleh Wilson. Kerangka dari kedua model tersebut tetap memiliki fokus yang sama yaitu kebutuhan informasi, faktor-faktor penghalang, dan mengenali perilaku penemuan informasi. Perbedaan model diatas dengan model sebelumnya adalah di dalam hal-hal berikut (Wilson, 1999):

1.                  Penggunaan istilah intervening variable untuk menjelaskan hambatan-hambatan yang dihadapi dalam proses pecarian informasi.

2.                  Menunjukkan lebih banyak tipe perilaku penemuan informasi daripada sebelumnya (pencari aktif tetap menjadi fokus perhatian);

3.                  Pengolahan dan pemanfaatan informas;

4.                  Didukung oleh tiga teori yaitu:

a.             Teori tentang stres dan cara mengatasi masalah (stress and coping theory),

b.            Teori tentang resiko dan imbalan,

c.             Teori belajar sosial,

G. Kebutuhan Informasi

            Kebutuhan merupakan konsep psikologis. Wilson mendefinisikan kebutuhan sebagai:

“…is a subjective experience which occurs only in the mind of the person in need and, consequently, is not directly accessible to an observer.”

 

            Morgan dan King (Wilson, 1996) mengemukakan bahwa kebutuhan muncul dari tiga motif, yaitu:

1.            Physiological motives

2.            Unlearned motives

3.            Social motives

Lebih lengkapnya mengenai kebutuhan informasi ini, peneliti menyajikan di sub bab sebelumnya.

 

a. Variabel Intervensi (Intervening Variables)

Dalam model perilaku pencarian informasi yang dikemukan oleh Wilson (1996) terdapat Intervening Variable sebagai faktor yang menentukan tingkat keberhasilan dalam memenuhi kebutuhan informasi. Wilson mengemukakan bahwa kebutuhan dasar dapat didefinisikan sebagai psikologis atau kognitif atau afektif. Wilson mencatat bahwa konteks (situasi/keadaan) berasal dari suatu kebutuhan mungkin dari personal, role related (aturan yang berperan) atau environmental (lingkungan) dimana dia tinggal atau bekerja. Dia berpendapat bahwa rintangan yang menghalangi pencarian informasi akan muncul bersamaan dengan konteks (situasi/keadaan). Dan yang dikategorikan termasuk sebagai Intervening Variable itu adalah personal (psikologis dan demografis), role-related (aturan yang berperan)/ interpersonal,  environmental (lingkungan), karakteristik sumber informasi.

         Psikologis: tingkat pendidikan dan pengetahuan, pola pikir, karakteristik emosi.

         Demografi: usia, jenis kelamin.

         Role-related (aturan yang berperan)/ interpersonal

         Lingkungan: waktu, kondisi Geografi, budaya setempat,.

         Karakteristik sumber informasi: kemudahan akses, kredibilitas, saluran komunikasi.

 

b. Perilaku Pencarian Informasi

Dalam modelnya, Wilson mengungkapkan empat perilaku pencarian informasi.

1.            Perhatian pasif (passive attention)

“…such as listening to the radio or watching television programmes, where there may be no information-seeking intended, but where information acquisition may take place nevertheless.”

 

 

 

2.            Pencarian pasif (passive search)

“…which seems like a contradiction in terms, but signifies those occasions when one type of search (or other behavior) results in the acquisition of information that happens to be relevant to the individual.”

 

3.            Pencarian aktif (active search)

“…which is the type of search most commonly thought of the information science literature, where an individual actively seeks out information.”

 

 

4.            Pencarian berlanjut (ongoing search)

“…where active searching has already established the basic framework of ideas, beliefs, values, or whatever, but where occasional continuing search is carried out to update or expand one’s framework.”

 

c. Pengelolaan dan Pemanfaatan Informasi

            Pengelolaan dan pemanfaatan informasi bersifat subjektif seperti halnya kebutuhan informasi. Sehingga akan berbeda satu sama lain antar individu. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dibatasi oleh tiga hal, yaitu:

               Penyimpanan informasi

               Penyebaran informasi

               Temu-kembali informasi

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Alwasilah, A. Chaedar. 2003. Pokoknya Kualitatif: Dasar-dasar Merancang Penelitian Kualitatif. Jakarta: Pustaka Jaya.

Armstrong, Thomas. 2002. Sekolah Para Juara: Menerapkan Multiple Intelligences di Dunia Pendidikan. Bandung: Kaifa.

Azwar, Saifuddin. 2007. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Davis, Gordon B. 1991. Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo.

DePorter, Bobbi dan Mike Hernacki. 1999. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa.

Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Efendi, Agus. 2005. Revolusi Kecerdasan Abad 21: Kritik MI, EI, SQ, AQ & Successful Intelligence Atas IQ. Bandung: Alfabeta.

Hall, Calvin S. dan Gardner Lindzey. 1993. Teori-teori Holistik (Organismik – Fenomenologis). Yogyakarta: Kanisius.

Hamidi. 2007. Metode Penelitian dan Teori Komunikasi. Malang: UMM Press.

Hasan, Iqbal. 2002. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Jakarta: Ghalia Indonesia

Hoerr, Thomas R. 2007. Buku Kerja Multiple Intelligences. Bandung: Kaifa.

Kadir, Abdul. 2003. Pengenalan Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi.

Koeswara, E. 1998. Dinamika Informasi dalam Era Global. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Moekijat. 2002. Dasar-dasar Motivasi. Bandung: Pionir Jaya.

Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Nasution. 1988. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.

Nasution. 2001. Sejarah Pendidikan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Pendit, Putu Laxman. 2003. Penelitian Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Suatu Pengantar Diskusi Epistemologi dan Matodologi. Jakarta: JIP-FSUI.

Priyono, Sugeng Agus. 2006. Perpustakaan Atraktif. Jakarta: Grasindo.

Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

                                 . 2002. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Rostina, Lefie. 2006. Perilaku Pencarian Informasi Tenaga Kesehatan: Studi KAsus Tentang Perilaku Penemuan Informasi Tenaga Kesehatan pada Perpustakaan Rumah Sakit Pertamina (RSPP). Tidak diterbitkan.

Rusmana, Agus. 2004. Komunikasi Dalam Dunia Kini. Jurnal Komunikasi dan Informasi, Edisi Khusus September 2004.

Sevilla, Consuelo G., dkk. 1993. Pengantar Metode Penelitian. Jakarta: UI Press.

Sudjana. 2004. Pendidikan Nonformal: Wawasan, Sejarah Perkembangan, Filsafat, Teori Pendukung, serta Asas. Bandung: Falah Production.

Sugiono. 2007. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sulistiyo-Basuki. 2004. Pengantar Dokumentasi. Bandung: Rekayasa Sains.

Sundari, Yanti. 2007. Peranan Intervening Variable Perilaku Pencarian Informasi Oleh Guru Dalam Pemanfaatan Information and Communication Technology (ICT). Tidak diterbitkan.

Sutarno. 2003. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Syurfah, Ariany. 2007. Multiple Intelligence for Islamic Teaching. Bandung: Syaamil.

Syaffril, Muhammad. 2004. Perilaku Pencarian Informasi Melalui Koleksi Surat Kabar untuk Memenuhi Kebutuhan Informasi: Studi Deskriptif Tentang Perilaku Pencarian Informasi Melalui Koleksi Surat Kabar untuk Memenuhi Kebutuhan Informasi Mahasiswa di Perpustakaan UNISBA. Tidak diterbitkan.

Syah, Muhibbin. 1999. Psikologi Belajar. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial: Suatu Pengantar. Yogyakarta: Andi Offset.

Yusuf, Syamsu. 2007. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Yusup, Pawit M. 1995. Pedoman Praktis Mencari Informasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

                             . 2001. Pengantar Aplikasi Teori Ilmu Sosial Komunikasi Untuk Perpustakaan dan Informasi. Bandung: Program Studi Ilmu Perpustakaan Fikom Unpad.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s