PRILAKU PENCARIAN DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN INFORMASI (Bagian 1)

PRILAKU PENCARIAN DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN INFORMASI (Bagian 1)

Oleh    :           Encang Saepudin

  1. Kebutuhan Manusia

Banyak teori yang membahas tentang kebutuhan manusia. Teori-teori kebutuhan tersebut lahir dari ilmu kejiwaan atau lebih dikenal dengan istilah Psikologi. Salah satu teori kebutuhan dikeluarkan oleh Abraham Maslow.

Teori kebutuhan berangkai dari Maslow (Krech, Crutchfield, dan Ballachey dalam Yusup, 1995 : 2):

  1. Kebutuhan fisiologis, misalnya haus dan lapar;
  2. Kebutuhan rasa aman, misalnya rasa aman dari gangguan dan ancaman;
  3. Kebutuhan rasa cinta dan memiliki;
  4. Kebutuhan rasa harga diri, seperti rasa prestise, keberhasilan, serta respek pribadi;
  5. Kebutuhan rasa aktualisasi diri, misalnya hasrat untuk berdiri sendiri.

Timbulnya kebutuhan seseorang tetap dipengaruhi oleh kondisi fisiologis, situasi, dan kognisinya (Krech, Crutchfield, dan Ballachey dalam Yusup, 1995: 3). Kebutuhan orang tidak akan timbul atas barang-barang yang tidak terjangkau oleh kemampuan daya belinya. Hasil berpikir seseorang juga sering menimbulkan keinginan atau kebutuhan tertentu sesuai dengan apa yang dipikirkannya, misalnya jika sedang berpikir tentang bagaimana meningkatkan pengetahuan yang sudah dimilikinya, ia mulai berpikir tentang upaya mencari informasi untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, termasuk dengan cara membaca dan menelususri berbagai bahan bacaan yang banyak kaitannya dengan masalah yang dipikirkannya itu (Yusup, 1995: 3).

Dikaitkan dengan lingkungan yang mendorong timbulnya kebutuhan tersebut, khususnya yang berkaitan dengan seseorang yang dihadapkan pada berbagai media penampung informasi (sumber-sumber informasi), maka banyak kebutuhan yang bisa dikemukakan, antara lain seperti yang diususlkan oleh Katz, Gurevitch, dan Haas (Tan dalam Yusup, 1995: 3) adalah sebagai berikut.

1.                  Kebutuhan kognitif. Kebutuhan ini berkaitan erat dengan kebutuhan untuk memperkuat atau menambah informasi, pengetahuan, dan pemahaman seseorang akan lingkungannya. Kebutuhan ini didasarkan pada hasrat seseorang untuk memahami dan menguasai lingkungannya. Hal ini memang benar bahwa orang menurut pandangan psikologi kognitif mempunyai kecenderungan untuk mengerti dan mengausai lingkungannya. Di samping itu, kebutuhan ini juga dapat memberikan kepuasan atas hasrat keingintahuan dan penyelidikan seseorang.

2.                  Kebutuhan afektif. Kebutuhan ini dikaitkan dengan penguatan estetis, hal yang dapat menyenangkan, dan pengalaman-pengalaman emosional. Berbagai media, baik media cetak maupun media elektronik, sering dijadikan alat untuk mengejar kesenangan dan hiburan. Orang membeli radio, televisi, menonton film, dan membaca buku-buku bacaan ringan dengan tujuan untuk mencari hiburan.

3.                  Kebutuhan integrasi personal ([personal integrative needs). Kebutuhan ini sering dikaitkan dengan penguatan kredibilitas, kepercayaan, stabilitas, dan status individu. Kebutuhan-kebutuhan ini berasal dari hasrat seseorang untuk mencari harga diri.

4.                  Kebutuhan integrasi sosial (social integrative needs). Kebutuhan ini dikaitkan dengan penguatan hubungan dengan keluarga, teman, dan orang lain di dunia. Kebutuhan ini didasari oleh hasrat seseorang untuk bergabung atau berkelompok dengan orang lain.

5.                  Kebutuhan berkhayal (escapist needs). Kebutuhan ini dikaitkan dengan kebutuhan-kebutuhan untuk melarikan diri, melepaskan ketegangan, dan hasrat untuk mencari hiburan atau pengalihan (diversion).

 

Kebutuhan yang dihadapi orang tidak akan berkurang sepanjang hidupnya, begitu juga masalah-masalah yang menyertainya karena pada dasarnya yang disebut masalah adalah kebutuhan yang menduduki prioritas tinggi. Terjadinya kebutuhan itu jika terdapat kesenjangan antara harapan dan kenyataan, antara yang seharusnya dengan kondisi nyata sekarang. Sebenarnya, timbulnya suatu kebutuhan itu juga dari adanya informasi yang datang menerpa orang yang bersangkutan.

B.  Kebutuhan Informasi

Manusia adalah makhluk yang kompleks. Manusia memiliki banyak kebutuhan untuk melangsungkan kehidupannya. Mulai dari kebutuhan ragawi sampai kebutuhan yang bersifat rohani.

Setiap orang membutuhkan informasi sebagai bagian dari tuntutan kehidupannya, penunjang kegiatannya, dan pemenuhan kebutuhannya. Rasa ingin tahu seseorang timbul karena ia ingin selalu berusaha menambah pengetahuannya. Krech, Crutchfield, dan Ballachey (Yusup, 1995: 8) lebih jauh menjelaskan karena adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah-masalah sosial, seseorang termotivasi untuk mencari pengetahuan, bagaimana caranya agar dapat memecahkan masalah tersebut. Salah satu cara adalah mencari tambahan pengetahuan melalui membaca berbagai media bahan bacaan yang sebagian besar tersedia di perpustakaan-perpustakaan.

Fungsi informasi bisa berkembang sesuai dengan bidang garapan yang disentuhnya. Namun, setidaknya yang utama adalah sebagai data dan fakta yang membuktikan adanya suatu kebenaran, sebagai penjelas hal-hal yang sebelumnya meragukan, sebagai prediksi untuk peristiwa-peristiwa yang mungkin akan terjadi pada masa yang akan datang. Nyatanya, informasi itu banyak fungsinya. Tidak terbatas pada salah satu bidang atau aspek saja, melainkan menyeluruh, hanya bobot dan manfaatnya yang berbeda karena disesuaikan dengan kondisi yang membutuhkannya (Yusup, 1995: 13).

Taylor (Arsland dalam Rosita, 2006: 29) menjelaskan empat tingkat kebutuhan informasi yaitu: visceral, yaitu informasi aktual yang dibutuhkan tetapi tidak dapat diungkapkan; conscious, merupakan kebutuhan-kebutuhan yang dapat dijelaskan atau digambarkan; formalized, pernyataan resmi atas suatu kebutuhan; dan compromised, yaitu pertanyaan yang diajukan pada sistem informasi.

Empat jenis kebutuhan terhadap informasi (Guha dalam Syaffril, 2004: 18-19):

1.                  Current need approach, yaitu pendekatan kepada kebutuhan pengguna informasi yang sifatnya mutakhir. Pengguna berinteraksi dengan sistem informasi dengan cara yang sangat umum untuk meningkatkan pengetahuannya. Jenis pendekatan ini perlu ada interaksi yang sifatnya konstan antara pengguna dan sistem informasi.

2.                  Everyday need approach, yaitu pendekatan terhadap kebutuhan pengguna yang sifatnya spesifik dan cepat. Informasi yang dibutuhkan pengguna merupakan informasi yang rutin dihadapi oleh pengguna.

3.                  Exhaustic need approach, yaitu pendekatan terhadap kebutuhan pengguna akan informasi yang mendalam, pengguna informasi mempunyai ketergantungan yang tinggi pada informasi yang dibutuhkan dan relevan, spesifik, dan lengkap.

4.                  Catching-up need approach, yaitu pendekatan terhadap pengguna akan informasi yang ringkas, tetapi juga lengkap khususnya mengenai perkembangan terakhir suatu subyek yang diperlukan dan hal-hal yang sifatnya relevan.

C. Informasi dan Kebutuhan Kognitif Seseorang

Informasi merupakan hal yang bisa memenuhi kebutuhan kognitif seseorang. Dengan informasilah kebutuhan kognitif seseorang bisa terpenuhi. Karena kebutuhan kognitif berkaitan erat dengan kognitif atau pola piker seseorang.

Pelajar SD, SMP, SMA dan sederajat setiap saat disuguhi informasi yang diharapkan lebih bermanfaat bagi kehidupannya, baik pada saat sekarang maupun masa datang. Informasi dalam hal ini bermakna segala jenis data, fakta, ataupun keterangan yang banyak berhubungan dengan tugas-tugas akademik pelajar yang bersangkutan sebagi orang yang sedang melakukan proses kehidupannya, (bersekolah) belajar. Mereka banyak membutuhkan informasi tentang mata pelajaran yang tertuang dalam kurikulum sekolah. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Biologi, Kimia, Fisika, Biologi, Geografi, Agama, dan sebagainya, adalah paket informasi kurikulum yang perlu dikuasai setiap pelajar sesuai dengan jenjang waktu yang telah ditetapkan, misalnya satu semester, dua semester, tiga semester, dan seterusnya sesuai dengan bobot mata pelajaran bersangkutan. Dengan kata lain, pelajar tersebut sangat membutuhkan informasi yang berhubungan dengan kurikulum sekolah (Yusup, 1995: 1).

Sikap bisa berubah karena adanya terpaan informasi yang terus bertambah (Krech, Crutchfield, dan Ballachey dalam Yusup, 1995 : 5). Perubahan ini hanya bisa terjadi apabila jumlah informasi yang menerpanya, atau yang dibacanya, cukup banyak dan dalam waktu yang cukup lama.

Konsep perubahan sikap ini serupa dengan konsep belajar yang terjadi pada diri seseorang yang memang berjalan atau berproses dalam waktu yang relatif lama dan menetap karena hasil interaksinya dengan lingkungannya (Bigge dalam Yusup, 1995: 5), termasuk informasi yang banyak menerpanya. Teori belajar ini pun banyak digunakan untuk menjelaskan bagaimana sikap seseorang berubah karena adanya perubahan dalam struktur kognitif, yang antara lain disebabkan adanya terpaan informasi dari berbagai media penyimpan informasi (sumber-sumber informasi) (Yusup, 1995: 5).

Seperti yang telah dijelaskan diatas mengenai kebutuhan manusia yang dikemukakan oleh Katz, Gurevitch, dan Haas (Tan dalam Yusup, 1995: 3), menempatkan kebutuhan kognitif pada urutan pertama. Kebutuhan kognitif ini erat kaitannya dengan informasi.

D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Informasi

Katz, Gurevitch, dan Haas (Tan dalam Yusup, 1995: 4) juga menemukan dalam penelitiannya bahwa orang yang tingkat pendidikannya tinggi lebih banyak mempunyai kebutuhan dibandingkan dengan orang yang berpendidikan rendah. Ini berarti bahwa orang yang mempunyai pendidikan relatif tinggi, seperti guru, dosen, dan peneliti, misalnya, lebih banyak mempunyai kebutuhan akan sesuatu yang bias memuaskannya, dan lebih banyak mempunyai tujuan yang berkaitan dengan permasalahan kehidupannya daripada orang-orang pada umumnya. Hal ini terjadi karena pada umumnya orang lebih senang berpikir simpleks daripada orang-orang yang berpendidkan tinggi yang lebih banyak menggunakan pola berpikir multipleks. Konsep multipleksitas (dalam berpikir) ini diusulkan oleh Krech, Crutchfield, dan Ballachey (Yusup, 1995: 5) untuk menjelaskan adanya perbedaan dalam cara orang mengalami perubahan kognisi yang di antaranya dipengaruhi oleh sistem kognisi yang sudah dipunyai oleh orang yang bersangkutan sebelumnya. Semua informasi yang menerpa orang yang berpikiran multipleks akan dikelolanya, dikaitkan dengan informasi lain yang sudah dipunyainya untuk kemudian dicari pola kaitannya guna menghasilkan pengetahuan baru atau informasi baru.

Menurut Sulistiyo Basuki (2004: 396) kebutuhan informasi ditentukan oleh:

  1. Kisaran informasi yang tersedia;
  2. Penggunaan informasi yang akan digunakan;
  3. Latar belakang, motivasi, orientasi profesional, dan karakteristik masing-masing pemakai;
  4. Sistem sosial, ekonomi, dan politik tempat pemakai berada; dan
  5. Konsekuensi penggunaan informasi.

 

E. PERILAKU MANUSIA

            Perilaku adalah kegiatan organisme yang dapat diamati dan yang bersifat umum mengenai otot-otot dan kelenjar-kelenjar sekresi eksternal sebagaimana terwujud pada gerakan bagian-bagian tubuh atau pada pengeluaran air mata, keringat (Desmita, 2005: 54).

Perilaku atau aktivitas yang ada pada individu atau organisme itu tidak timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat dari stimulus yang diterima oleh organisme yang bersangkutan baik stimulus eksternal maupun stimulus internal. Namun demikian sebagian terbesar dari perilaku organisme itu sebagi respon terhadap stimulus eksternal. Bagaiman kaitan antara stimulus dan perilaku sebagai respon terdapat sudut pandang yang belum menyatu antara para ahli. Ada ahli yang memandang bahwa perilaku sebagai respon terhadap stimulus, akan sangat ditentukan oleh keadaan stimulusnya, dan individu atau organisme seakan-akan tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan perilakunya, hubungan stimulus dan respon seakan-akan bersifat mekanistis. Pandangan semacam ini pada umumnya merupakan pandangan yang bersifat behavioristis.

Berbeda dengan pandangan kaum behavioristis adalah pandangan dari aliran kognitif, yaitu yang memandang perilaku individu merupakan respon dari stimulus, namun dalam diri individu itu ada kemampuan untuk menentukan perilaku yang diambilnya. Ini berarti individu dalam kedaan aktif dalam menentukan perilaku yang diambilnya (Walgito, 2003: 13).

a. Jenis Perilaku

Skiner (dalam Walgito, 2003) membedakan perilaku menjadi (a) perilaku yang alami (innate behavior), (b) perilaku operan (operant behavior). Perilaku alami yaitu perilaku yang dibawa sejak organisme dilahirkan, yaitu yang berupa refleks-refleks dan insting-insting, sedangkan perilaku operan yaitu perilaku yang dibentuk melalui proses belajar. Perilaku yang refleksif merupakan perilaku yang terjadi sebagai rekasi secara spontan terhadap stimulus yang mengenai organisme yang bersangkutan. Misal reaksi kedip mata bila mata kena sinar yang kuat, gerak lutut bila lutut kena palu, menarik jari bila jari terkena api. Reaksi atau perilaku ini terjadi secara dengan sendirinya, secara otomatis, tidak diperintah oleh pusat susunan syaraf atau otak. Stimulus yang diterima oleh organisme atau individu itu tidak sampai ke otak sebagai pusat susunan syaraf, sebagai pusat pengendali perilaku. Dalam perilaku yang refleksif, respon langsung timbul begitu menerima stimulus. Dengan kata lain begitu stimulus diterima oleh reseptor, langsung timbul respon melalui afektor tanpa melalui pusat kesadaran atau otak.

Pada perilaku yang non-refleksif atau yang operan lain keadaanya. Perilaku ini dikendalikan atau diatur oleh pusat kesadaran atau otak. Dalam kaitan ini stimulus setelah diterima oleh reseptor, kemudian diteruskan ke otak sebagai pusat susunan syaraf, sebagai pusat kesadaran, kemudian baru terjadi respon melalui afektor. Proses yang terjadi dalam otak atau pusat kesadaran ini yang disebut proses psikologis. Perilaku atau aktivitas atas dasar proses psikologis ini yang disebut perilaku atau aktivitas paikologis (Branca dalam Walgito, 2003).

Pada manusia perilaku psikologis inilah yang dominant, sebagian besar perilaku manusia merupakan perilaku yang dibentuk, perilaku yang diperolah, perilaku yang dipelajari melalui proses belajar. Perilaku yang refleksif merupakan perilaku yang pada dasarnya tidak dapat dikendalikan. Hal tersebut karena perilaku refleksif adalah perilaku yang alami, bukan perilaku yang dibentuk. Perilaku yang operan (Skiner, 1976), atau perilaku yang psikologis (Branca, 1964) merupakan perilaku yang dibentuk, dipelajari, dan dapat dikendalikan. Karena itu dapat berubah melalui proses belajar. Di samping perilaku manusia itu dapat dikendalikan, perliaku manusia juga merupakan perilaku yang integrated, yang berarti bahwa keseluruhan individu atau organisme itu terlibat dalam perilaku yang bersangkutan, bukan bagian demi bagian.

 

b. Pembentukan Perilaku

Perilaku manusia sebagian besar ialah berupa perilaku yang dibentuk, perilaku yang dipelajari. Berkaitan dengan hal tersebut maka salah satu persoalan ialah bagaimana cara membentuk perilaku itu sesuai dengan yang diharapkan (Walgito, 2003: 16 – 17).

1.                  Cara pembentukan perilaku dengan kondisioning atau kebiasaan.

Salah satu cara pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan kondisioning atau kebiasaan. Dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan, akhirnya akan terbentuklah perilaku tersebut. Misal dibiasakan bangun pagi, atau menggosok gigi sebelum tidur, mengucapkan terima kasih bila diberi sesuatu oleh orang lain, membiasakan diri untuk datang tidak terlambat di kantor dan sebagainya. Cara ini didasarkan atas teori belajar kondisioning baik yang dikemukakan oleh Pavlov maupun oleh Thorndike dan Skiner. Walaupun antara Pavlov, Thorndike dan Skiner terdapat pendapat yang tidak seratus persen sama, namun para ahli tersebut mempunyai dasar pandangan yang tidak jauh berbeda satu dengan yang lain. Kondisioning Pavlov dikenal dengan kondisioning klasik, sedangkan kondisioning Thorndike dan Skiner dikenal sebagai kondisioning operan. Walaupun demikian ada yang menyebut kondisioning Thorndike sebagai kondisioning instrumental, dan kondisioning Skiner sebagai kondisioning operan. Seperti telah dipaparkan di depan atas dasar pandangan ini pembentukan perilaku dilaksanakan dengan kondisioning atau kebiasaan.

2.                  Pembentukan perilaku dengan pengertian (insight).

Di samping pembentukan perilaku dengan kondisioning atau kebiasaan, pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan pengertian atau insight. Misal datang kuliah jangan sampai terlambat, karena hal tersebut dapat mengganggu teman-teman yang lain. Bila naik motor harus pakai helm, karena helm tersebut untuk keamanan diri, dan masih banyak contoh untuk menggambarkan hal tersebut. Cara ini berdasarkan atas teori belajar kognitif, yaitu belajar dengan disertai adanya pengertian. Bila dalam eksperimen Thorndike dalam belajar yang dipentingkan adalah soal latihan, maka dalam eksperimen Kohler dalam belajar yang penting adalah pengertian atau insight. Kohler adalah salah seorang tokoh dalam psikologi Gestalt dan termasuk dalam aliran kognitif.

3.                  Pembentukan perilaku dengan menggunakan model.

Di samping cara-cara pembentukan perilaku seperti tersebut di atas, pembentukan perilaku masih dapat ditempuh dengan menggunakan model atau contoh. Kalau orang bicara bahwa orang tua sebagai contoh anak-anaknya, pemimpin sebagai panutan yang dipimpinnya, hal tersebut menunjukkan pembentukan perilaku dengan menggunakan model. Pemimpi dijadikan model tau contoh oleh yang dipimpinnya. Cara ini didasarkan atas teori belajar sosial (social learning theory) atau observational learning theory yang dikemukakan oleh Bandura (1977).

           

c. Beberapa Teori Perilaku

  Perilaku manusia tidak dapat lepas dari kedaan individu itu sendiri dan lingkungan di mana individu itu berada. Perilaku manusia itu didorong oleh motif tertentu sehingga manusia itu berperilaku. Dalam hal ini ada beberapa teori, di antara teori-teori tersebut dapat dikemukakan (Walgito, 2003: 17 – 18):

 

1.                  Teori Insting

Teori ini dikemukakan oleh McDougall sebagai pelopor dari psikologi sosial, yang menerbitkan buku psikologi sosial yang pertama kali, dan mulai saat ini psikologi sosial menjadi pembicaraan yang cukup menarik. Menurut McDougall perilaku itu disebabkan karena insting, dan McDougall mengajukan suatu daftar insting. Insting merupakan perilaku yang innate, perilaku yang bawaan, dan insting akan mengalami perubahan karena pengalaman. Pendapat McDougall ini mendapat tanggapan yang cukup tajam dari F. Allport yang menerbitkan buku Psikologi Sosial pada tahun 1924, yang berpendapat bahwa perilaku manusia ini disebabkan karena banyak faktor, termasuk orang-orang yang ada disekitarnya dengan perilakunya (Baron dan Byrne dalam Walgito, 2003).

2.                  Teori Dorongan (Drive Theory)

Teori ini bertitik tolak pada pandangan bahwa organisme itu mempunyai dorongan-dorongan atau drive tertentu. Dorongan-dorongan ini berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan organisme yang mendorong organisme berperilaku. Bila organisme itu mempunyai kebutuhan, dan organisme ingin memenuhi kebutuhannya maka akan terjadi ketegangan dalam diri organisme itu. Bila organisme berperilaku dan dapat memenuhi kebutuhannya, maka akan terjadi pengurangan atau reduksi dari dorongan-dorongan tersebut. Karena itu teori ini menurut Hull (Crider dan Hergenhahn dalam Walgito, 2003) juga disebut teori drive reduction.

 

3.                  Teori Insentif (Incentive Theory)

Teori ini bertitik tolak pada pendapat bahwa perilaku organisme itu disebabkan karena adanya insentif. Dengan insentif akan mendorong organisme berbuat atau berperilaku. Insentif atau juga disebut sebagai reinforcement ada yang positif dan ada yang negative. Reinforcement yang positif adalah berkaitan dengan hadiah, sedangkan reinforcement yang negative berkaitan dengan hukuman. Reinforcement yang positif akan mendorong organisme dalam berbuat, sedangkan reinforcement yang negatif akan dapat menghambat dalam organisme berperilaku. Ini berarti bahwa perilaku timbul karena adanya insentif atau reinforcement. Perilaku semacam ini dikupas secara tajam dalam psikologi belajar.

4.                  Teori Atribusi

Teori ini ingin menjelaskan tentang sebab-sebab perilaku orang. Apakah perilaku itu disebabkan oleh disposisi internal (misal motif, sikap, dsb.) ataukah oleh kedaan eksternal. Teori ini dikemukakan oleh Fritz Heider (Baron dan Byrne dalam Walgito, 2003) dan teori ini menyangkut lapangan psikologi sosial. Pada dasarnya perilaku manusia itu dapat atribusi internal, tetapi juga dapat atribusi eksternal.

5.                  Teori Kognitif

Apabila seseorang harus memilih perilaku mana yang mesti dilakukan, maka yang bersangkutan akan memilih alternatif perilaku yang akan membawa manfaat sebesar-besarnya bagi yang bersangkutan. Ini yang disebut sebagai model subjective expected utility (SEU) (Fishbein dan Ajzen dalam Walgito, 2003). Dengan kemampuan memilih ini berarti faktor berpikir berperan dalam menentukan pemilihannya. Dengan kemampuan berpikir seseorang akan dapat melihat apa yang telah terjadi sebagai bahan pertimbangannya di samping melihat apa yang dihadapi pada waktu sekarang dan juga dapat melihat ke depan apa yang akan terjadi dalam seseorang bertindak. Dalam model SEU kepentingan pribadi yang menonjol. Tetapi dalam seseorang berperilaku kadang-kadang kepentingan pribadi dapat disingkirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s