HAL-HAL POKOK YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM LAYANAN PERPUSTAKAAN

HAL-HAL POKOK  YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM LAYANAN PERPUSTAKAAN

Oleh : Encang Saepudin

Berbagai faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan layanan perpustakaan, seperti keadaan koleksi, staf, gedung dan fasilitas perpustakaan, serta publisitas atau promosi perpustakaan.

Stoakley (1982) mengemukakan tentang konsep layanan perpustakaan yaitu penyediaan koleksi bahan pustaka yang sesuai dengan kebutuhan pengguna, penyediaan fasilitas akses, gedung dan ruang baca, serta tersedianya staf profesional dalam memberi bimbingan dan pengarahan kepada mereka.

Kemudian Trimo (1980) mengatakan bahwalayanan perpustakaan adalah dimulai dari penyediaan akan pustaka, pengolahan, sampai kepada pemberian jasa peminjaman dan penelusuran.

Dari  konsep layanan tersebut di atas maka dapat diuraikan sebagai berikut :

1.      Penyediaan koleksi

2.      Penyediaan fasilitas gedung dan ruang baca

3.      Penyediaan alat bantu penelusuran bahan pustaka atau informasi seperti katalog indeks, abstraks dalam bentuk manual dan berbasis teknologi informasi.

4.      Pemberian berbagai jasa seperti penyedia jasa rujukna, dan jasa internet serta bimbingan dalam penelusuran informasinya.

5.      Selain daripada itu, staf yang profesional bidang layanan perpustakaan yang mempunyai  kompetensi pengetahuan tentang komunikasi, psikologi dan bidang pendidikan. Karena 50% keberhasilan layanan ditentukan oleh staf perpustakaan.

Hal penting lagi yang perlu diperhatikan dalam layanan perpustakaan adalah promosi dan penyebaran publisitas baik melalui media cetak maupun lewat media elektronik (Tvdan radio), dan lewat internet.

1.      Koleksi Perpustakaan

Koleksi pustaka yang disajikan oleh sebuah perpustakaan adalah sebagai jawaban dari kebutuhan dan tuntutan  pengguna (need and demand). Maka dari itu sebelum koleksi tersebut diadakan maka terlebih dahulu dilakukan kajian kebutuhan akan pustaka dimaksud.

Sebuah perpustakaan umum dalam konteks ini adalah bagian perpustakaan daerah propinsi Jawa Barat mempunyai tugas pokok dan fungsinya adalah menyediakan pustaka untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jawa Barat, tentunya dalam menjawab tuntutan dan kebutuhan tadi perlu adanya kajian kebutuhan sehingga tidak terkesan asal mengadakan sumber bacaan itu.

Pedoman penyelenggaran perpustakaan ini (1982) menggambarkan perbandingan koleksi pustaka yaitu 60% buku, 15% rujukan (Referensi), 15% Periodikal (majalah, surat kabar dan jurnal), 5% Local Collection, koleksi pustaka tentang daerah di mana perpustakaan itu berada, dan 50% tentang koleksi media pandang dengar (AVA atau Multi Media)

Kemudian buku dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu 40% buku ilmu, dan 60% buku fiksi. Hal ini dimaksudkan untuk membina minat baca masyarakat. Selanjutnya isi dan subjeknya ditentukan berdasarkan sistem klasifikasi DDC (Dewey Decimal Classification), atau sistem lainnya tentang klasifikasi.

Dari kelompok subjek di atas, selanjutnya dikategorikan menurut kelompok pembacanya yaitu :

a.            Kelompok koleksi bacaan dewasa

b.            Kelompok koleksi bacaan remaja

c.            Kelompok koleksi bacaan anak

d.            Kelompok koleksi rujukan

e.            Kelompok koleksi majalah/Jurnal dan lain-lain.

2.      Fasilitas akses atau alat bantu penelusuran

Dengan menggunakan sistem klasifikasi untuk pengelompokkan subjek buku seperti DDC tentunya si pengguna akan dapat dipandu untuk menemukan buku tersebut pada rak.

Apabila buku-buku itu begitu banyak dan mengalami kesulitan pada waktu browsing (penelusuran langsung ke rak), maka diperlukan alat bantu penelusuran lain yaitu ”Katalog” (Catalogue).

Katalog adalah alat bantu penelusuran pustaka atau sumber informasi pada rak atau pangkalan data (database) yang memuat tentang deskripsi bibliografi dan penjurus hal (tajuk subjek). Titik akses pada katalog melalui nama pengarang, judul, subjek dan nomor klasifikasi. Hal ini akan membantu pengguna pada waktu mau akses, apakah ia ingat pengarang, judul, subjek buku itu, atau ia hapal nomor panggilnya (call number).

Katalog dapat dibuat secara manual, atau dibuat dalam bentuk pangkalan data (data-base) yang dapat diakses secara on-line (akses terpasang). Pengguna dapat mengakses melalui intranet  maupun internet terhadap sumber informasi yang dibutuhkan.

Sebuah perpustakaan umum karena penggunanya banyak, dan mereka bertempat tinggal jauh letaknya dengan lokasi perpustakaan umum, maka layanan on-line searching ini sangatlah diperlukan, pemakai tidak usah lagi datang keperpustakaan cukup melakukannya di kantor, atau di rumahnya masing-masing.

3.      Gedung dan Ruang Baca

Gedung merupakan salah satu faktor yang esensial untuk sebuah perpustakaan, terlebih-lebih bagi perpustakaan umum. Tujuan keberadan perpustakaan bagi lembaga tersebut adalah menyediakan sumber belajar bagi masyarakat sepanjang hayat, selain daripada itu meraka datang keperpustakaan untuk mengisi waktu senggang mereka dengan membaca buku-buku yang bersifat hiburan yang prosentasenya 40% dari koleksi buku yang ada, maka gedung harus ditata sedemikian rupa agar tercipta suasana yang kodusif untuk kegiatan belajar dan rekreasi masyarakat penggunanya.

Hal lain yang perlu diperhatikan dan gedung perpustakaan adalah 50% dari total ruangan yang ada, diperuntukkan untuk menampung koleksi, yang mana koleksi ini tiap tahunnya terus berkembang sesuai dengan kebutuhan. Sebagai tempat untuk menyimpan koleksi pustaka tentunya harus dapat menciptakan keamanan dan kelestarian koleksi tadi, maka perlu diperhatikan sirkulasi udara, cahaya dan suhu ruangan tersebut. Belum lagi gangguan binatang, bencana alam dan kehilangan akibat tangan jahil manusia.

Begitu juga gedung adalah tempat bekerja para staf perpustakaan, maka harus diperhatikan tingkat kenyamanannya karena mereka akan bekerja di ruang tersebut sampai pensiun. Gedung pun tempat berkumpul dan bertemu sehingga harus terhindar dari suasana bising dan keributan.

Desain interior ruangan yang refresentatif mencipakan suasana betah bagi pengguna, adanya fasilitas  yang memadai, serta adanya pepohonan dan tanaman yang dapat menciptakan lingkungan yang asri.

4.      Jasa layanan perpustakaan

Perpustakaan umum memberikan berbagai jasa kepada masyarakat penggunanya, seperti jasa peminjaman, jasa rujukan (Reference Service), jasa bimbingan dan penyuluhan, jasa penelusuran informasi (information searching), jasa perpustakan keliling, bimbingan teknis, jasa foto kopi, internet, dan pembinaan minat baca masyarakat. Semua jasa tersebut merupakan salah satu tugas utama perpustakaan umum seperti Badan Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Barat yang mempunyai Eselon IIA.

Setiap jasa yang diberikan tentunya harus mempunyai nilai guna manfaat bagi masyarakat. Oleh sebab itu perlu tersedianya fasilitas atau infrastruktur yang memadai seperti komputer, jaringan intranet dan internet katalog manual data base, dan software lainnya.

Di samping itu pula adanya tenaga profesional yang dapat memberikan jasa kepada pengguna yang sesuai dengan harapan dan keinginannya. Staf profesional dimaksud adalah mereka yang mempunyai kompetensi bidang ilmu informasi dan perpustakaan, ilmu komunikasi, psikologi dan pendidikan, komputer serta menguasai salah satu bahasa asing. Ia gemar menolong dan peka terhadap kebutuhan informasi penggunanya (Information Know – How).

Stoakley menyatakan bahwa keberhasilan layanan terletak pada staf-nya, kuncinya adalah komunikasi. Artinya layanan perpustakaan akan berhasil melalui kegiatan komunikasi antara petugas dan pengguna, sebagai contoh dalam layanan  referensi, si pengguna memerlukan informasi kemudian ia mengajukan  pertanyaan kepada staf referensi, selanjutnya terjadi dialog di antara keduanya sampai ada kesepakatan tentang informais yang diberitakannya dan petugas dapat menunjukkan di mana informasi tersebut dapat diperoleh. Aktivitas tersebut adalah komunikasi.

5.      Promosi Perpustakaan

Masih banyak masyarakat Jawa Barat dan Kota Bandung khususnya yang belum mengetahui tentang keberadaan Badan Perpustakaan daerah Propinsi Jawa Barat, demikian pula tentang tugas pokok dan fungsinya, serta koleksi pustaka apa yang dipunyainya.

Kondisi seperti ini tentunya tidak boleh dibiarkan begitu saja, perlu adanya upaya yang harus dilakukan yaitu melalui promosi perpustakaan. Promosi perpustakaan merupakan upaya atau cara untuk meningkatkan citra atau image perpustakaan di mata publik, sehingga masyarakat di samping mengetahui keberadaan lembaga tersebut, merekapun akan menyenangi dan tentunya akan menggunakan jasa perpustakaan secara optimal.

Berbagai metode dalam hal ini yang dapat dilakukan oleh perpustakaan misalnya pengenalan perpustakaan (Library orientation) dengan teknik pemutaran film, ceramah tentang membaca, jam cerita, bedah buku (Book talk), kunjungan perpustakaan (Library tour), dan banyak lagi.  Dapat juga melalui radio, TV, Surat kabar, majalah dan selebaran; untuk TV misalnya melalui ”Running Information”, iklan layanan masyarakat, atau diselipkan ke dalam program siaran TV itu sendiri. Bagi radio siaran, misalnya ada program khusus tentang ”gemar membaca”, dll.

Pendidikan pemakai (User Education), dapat juga dipakai sebagai metode promosi untuk penguatan kemampuan mendayagunakan perpustakaan (reinforcement). Sasaran dari pendidikan pemakai adalah bagaimana cara menggunakan perpustakaan (How to Use Library). Semua metode dan teknik promosi bisa dilakukan apabila ada dukungan daan dari pihak perpustakaan dan lembaga penaungnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmadi, Abu. 2003. Psikologi Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Atkinson, Frank.1974. Librarianship: an Introduction to The Profession. London: Clive Bringley.

 

Badan Perpustakaan Daerah Jawa Barat, 2006. Laporan Tahun 2006. Bandung: Bapusda.

 

Bangun, Antonius (et al) 1992. Kepustakawanan Indonesia : Potensi dan Tantangan. Jakarta : Kesaint Balnc.

 

Beck, Joan. 2001. Meningkatkan Kecerdasan Anak, Jakarta : Delapratasa Publishing.

 

Beenham, Rosemary and Colin Horrison. 1990. The Basic Or Librarianship. London : Clive Bingley.

 

Benge,  Ronald C.  1970.  Libraries  And  Cultural  Change, London : Clive

Bingley.

 

Departemen  Pendidikan   Dan  Kebudayaan.  1994.  Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan umum, Jakarta : Depdikbud

 

Departemen  Pendidikan   Dan  Kebudayaan.  1996.  Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Keliling, Jakarta : Depdikbud

 

Dahar, Ratna Wilis. 1996. Teori-teori Belajar, Jakarta : Erlangga.

 

Effendy, Onong U. 1986. Dimensi-dimensi Komunikasi, Bandung : Alumni.

 

 

Effendi, Onong Uchjana.1993. Dinamika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Guha, B. 1978. Documentation and Information. New Delhi: World Press.

 

Lasa, H. S. 1990. Kamus Istilah Perpustakaan. Yogyakarta: Kanisius.

 

Nazir, Moh. 1985.  Metode Penelitian,  Jakarta : Erlangga.

 

Purwono. 1999. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Yogyakarta: UPT  Perpustakaan Universitas Gadjah Mada.

 

 

Rakhmat,  Jalaluddin. 1991.  Metode  Penelitian  Komunikasi,  Bandung   :

Remaja Rosda Karya.

 

Soeatminah. 1992. Perpustakaan, Kepustakawanan, dan Pustakawan. Yogyakarta: Kanisius.

 

Trimo, Soejono. 1991.  Pedoman  Pelaksanaan  Perpustakaan,  Bandung  :  

Remadja Rosda Karya.

 

Sulistyo-Basuki. 1992. Teknik dan Jasa Dokumentasi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

 

Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

Sumardji. P. 1992. Pelayanan Referensi di Perpustakaan. Yogyakarta: Kanisius.

 

Yusup, Pawit. M. 1991. Mengenal Dunia Perpustakaan dan Informasi. Bandung: Binacipta.

 

Yusuf, S. 2000. Psikologi Perkembangan Anak  dan Remaja. Bandung: Remaja Rosda Karya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s