abstak

ABSTRAK

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertema Kegiatan Pembinaan Perpustakaan Sekolah dan Perpustakaan Desa  di Desa Pananggapan dan Desa Sukajadi. Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai upaya mengatasi keterbatasan pengetahuan dan keterampilan staf perpustakaan sekolah  dalam mengelola bahan pustaka yang akan dilayankan kepada para pengguna. Sasaran dari kegiatan PKM  ini adalah para guru dan staf perpustakaan lainnya dari setiap perpustakaan Sekolah Di Desa Pananggapan dan Desa Sukajadi Kecamatan Cibinong Kabupaten Cianjur. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk pelatihan serta menggunakan metode ceramah, diskusi, dan praktik. Tujuan dari kegiatan PKM ini yaitu meningkatkan  pengetahuan, pemahaman, keahlian dan keterampilan para pengelola perpustakaan Sekolah dan desa dalam mengelola bahan pustaka. Manfaat yang dapat diperoleh para peserta kegiatan ini yaitu adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan staf perpustakaan sekolah dan desa  dalam mengelola bahan pustaka. Secara umum pelaksanaan kegiatan PKM dalam bentuk pelatihan ini berjalan dengan lancar, materi tersampaikan dengan baik, dan dapat dipahami oleh setiap peserta.

KODE ETIK PROFESI SEBAGAI ACUAN BERPRILAKU PROFESIONAl

KODE ETIK  PROFESI SEBAGAI ACUAN BERPRILAKU PROFESIONAl 

Encang saepudin

  1. Batasan Etika

Dalam pergaulan hidup bermasyarakat diperlukan suatu sistem atau pedoman yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bargaul atau berhubungan antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Sistem pengaturan pergaulan tersebut  dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, adat, dan lain-lain.

Dengan adanya pedoman pergaulan ini  maka setiap anggota masyarakat dapat menjaga kepentingan masing-masin. Selain itu, mereka akan lebih senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya dan kepentingan aoarng lain. Dalam menjalankan aktivitasnya diharapkan akan selalu sesuai dengan  adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya etika di masyarakat kita.

Sebuah pertanyaan muncul, apakah etika?

Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimilki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.

Menurut Martin (1993), etika didefinisikan sebagai “the discpline which can act asthe performance index or reference for our control system”. Dengan demikian, etika akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya. Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan dengan seni pergaulan manusia, etika ini kemudian wujudkan  dalam bentuk aturan (code) tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada. Atuan-atuan ini akan  difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik. Dengan demikian etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “self control”, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepenringan kelompok sosial (profesi) itu sendiri.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia  etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, ilmu tentang hak dan kewajiban moral (ahklak). Hal ini sejalan dengan pendapat  yang dikemukakan oleh Franz Von Magnis (1976) “etika adalah ilmu tentang kewajiban-kewajiban manusia serta tentang yang baik dan yang buruk atau disebut bidang moral.” Berikut pendapat beberapa ahli mengenai batasan etika:

  1. Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
  2. Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.

Pada dasarnya, sifat dasar dari etika adalah bersifat kritis dan  bertugas untuk mempersoalkan norma-norma yang dianggap berlaku. Dengan demikian etika dapat mengantar orang kepada kemampuan untuk bersikap kritis dan rasional untuk membentuk pendapatnya sendiri. Obyek dari etika adalah pernyataan moral tentang tindakan manusia dan pernyataan tentang manusia sendiri atau tentang unsur pribadi manusia.

  1. Etika dan Etiket

Etika dan etiket nampaknya sama, namun sebenarnya terdapat perbedaan yang nyata. Etiket berasal dari kata “etiquette” (bahasa Perancis) yang berarti label atau tanda pengenal seperti pada etiket buku atau label pada barang. Kemudian pengertian ini berkembang menjadi semacam persetujuan bersama untuk menilai sopan tidaknya seseorang dalam (satu jenis) pergaulan.

Dengan pengertian ini maka dalam pergaulan hidup dapat diketahui bahwa

1. Etiket itu merupakan sikap yang terkandung nilai sopan santun dalam pergaulan;

2. Etiket itu semacam pakaian terbatas yang hanya dipakai pada keadaan dan situasi tertentu.

Oleh karena itu, etiket banyak jenisnya seperti etiket bertamu, etiket menerima tamu, etiket menelpon, dan lainnya. Disamping itu mengingat etiket itu mengandung sopan santun dan sebagai salah satu ajaran, maka etiket menjadi bagian dari ajaran etika terutama etika sosial.

Etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya. Nilai adalah standar/ukuran yang telah disepakati masyarakat tertentu tentang suatu perilaku. Norma memberikan pedoman bagaimana seharusnya seseorang bertindak secara baik dan tepat sekaligus menjadi dasar penilaian baik buruknya suatu tindakan apakah sesuai etika yang berlaku atau tidak. Dalam perkembangannnya, norma dapat dibagi menjadi norma khusus dan norma umum.

Norma khusus adalah aturan yang berlaku dalam bidang maupun aktivitas tertentu misalnya aturan bermain, aturan kunjungan pada pasien di rumah sakit, aturan mengikuti kuliah, dan lainnya. Norma umum lebih bersifat umum dan universal yang dapat dibagi menjadi; norma sopan santun/etiket, norma hukum, dan norma moral.

  1. 1.      Norma sopan santun, yakni norma yang mengatur pola perilaku dan sikap lahiriah seperti makan, minum, tata cara bertamu, menerima tamu, member sambutan, dan lainnya.
  2. 2.      Norma hukum, yakni norma yang dituntut masyarakat secara tegas demi keselamatan, ketenteraman, dan kesejahteraan masyarakat. Norma hukum ini ada yang tertulis seperti yang tertulis pada KUHP, tetapi ada juga yang tidak tertulis seperti hukum sosial dalam masyarakat. Dalam hal ini apabila seseorang tidak mengikuti aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat, maka masyarakatlah yang akan memberikan sanksi maupun hukuman. Pelanggaran norma hukum dalam masyarakat itu antara lain tidak pernah ta’ziyah, tidak pernah kerja bakti, tidak pernah datang apabila diundang kenduri, dan lainnya.
  3. 3.      Norma moral, yakni aturan yang berkaitan dengan sikap dan perilaku manusia sebagai manusia biasa tidak ada hubungannya dengan jabatan dan karir. Dalam hal ini dapat ditentukan baik buruknya seseorang dalam kapasitasnya sebagai manusia. Penilaian moral ini ditujukan pada bagaimana seorang karier menjalankan tugasnya dengan baik sebagai manusia. Dalam hal ini ditekankan pada sikap mereka dalam menghadapi tugas, dalam menghargai kehidupan manusia, dan dalam menghadapi dirinya sebagai manusia ketika menjalankan profesinya. Etika akan menuntun seseorang untuk bertindak dengan tepat sesuai norma yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat maupun profesi tertentu. Dengan demikian etika masyarakat atau etika profesi satu dengan yang lain berbeda.

Etika akan menuntun seseorang untuk bertindak dengan tepat sesuai norma yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat maupun profesi tertentu. Dengan demikian etika masyarakat atau etika profesi satu dengan yang lain berbeda.

B. Berbagai Jenis Etika

Pada dasarnya, etika dapat dibagi menjadi etika umum dan etika khusus:

1. Etika Umum

Etika umum ialah etika yang membahas tentang kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia itu bertindak secara etis. Etika inilah yang dijadikan dasar dan pegangan manusia untuk bertindak dan digunakan sebagai tolok ukur penilaian baik buruknya suatu tindakan.

2. Etika Khusus

Etika khusus ialah penerapan moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus misalnya olah raga, bisnis, atau profesi tertentu. Dari sinilah nanti akan lahir etika bisnis dan etika profesi (wartawan, dokter, hakim, pustakawan, dan lainnya). Kemudian etika khusus ini dibagi lagi menjadi etika individual dan etika sosial.

a. Etika Individual

Etika individual ini adalah etika yang berkaitan dengan kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendirin dan Tuhan-Nya, misalnya:

1). Memelihara kesehatan dan kesucian lahiriah dan batiniah;

2). Memelihara kerapian diri, kamar, tempat tingggal, dan lainnya;

3). Berlaku tenang;

4). Meningkatkan ilmu pengetahuan;

5). Membina kedisiplinan , dan lainnya.

b. Etika Sosial

Etika sosial adalah etika yang membahas tentang kewajiban, sikap, dan pola perilaku manusia sebagai anggota masyarakat pada umumnya. Dalam hal ini menyangkut hubungan manusia dengan manusia, baik secara individu maupun dalam kelembagaan (organisasi, profesi, keluarga, negara, dan lainnya).

PENGERTIAN PROFESI

Profesi

Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang yang bekerja tetap sesuai. Tetapi dengan keahlian saja yang diperoleh dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup disebut profesi. Tetapi perlu penguasaan teori sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan, dan hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek.

Kita tidak hanya mengenal istilah profesi untuk bidang-bidang pekerjaan seperti kedokteran, guru, militer, pengacara, dan semacamnya, tetapi meluas sampai mencakup pula bidang seperti manajer, wartawan, pelukis, penyanyi, artis, sekretaris dan sebagainya. Sejalan dengan itu, menurut De George, timbul kebingungan mengenai pengertian profesi itu sendiri, sehubungan dengan istilah profesi dan profesional. Kebingungan ini timbul karena banyak orang yang profesional tidak atau belum tentu termasuk dalam pengertian profesi. Berikut pengertian profesi dan profesional menurut De George;

  1. Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.
  2. Profesional adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Atau seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut keahlian, sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi, untuk senang-senang, atau untuk mengisi waktu luang.

Yang harus kita ingat dan fahami betul bahwa antara  “pekerjaan/ profesi” dan “profesional” terdapat beberapa perbedaan yaitu;

1. Profesi

a)      Mengandalkan suatu keterampilan atau keahlian khusus.

b)      Dilaksanakan sebagai suatu pekerjaan atau kegiatan utama (purna waktu).

c)      Dilaksanakan sebagai sumber utama nafkah hidup.

d)     Dilaksanakan dengan keterlibatan pribadi yang mendalam.

2. Profesional

a)      Orang yang tahu akan keahlian dan keterampilannya.

b)      Meluangkan seluruh waktunya untuk pekerjaan atau kegiatannya itu.

c)      Hidup dari situ.

d)     Bangga akan pekerjaannya.

Secara umum ada beberapa ciri atau sifat yang selalu melekat pada profesi, yaitu :

  1. Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
  2. Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
  3. Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
  4. Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untuk menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.
  5. Kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi.

Dengan melihat ciri-ciri umum profesi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa kaum profesional adalah orang-orang yang memiliki tolak ukur perilaku yang berada di atas rata-rata. Di satu pihak ada tuntutan dan tantangan yang sangat berat, tetapi di lain pihak ada suatu kejelasan mengenai pola perilaku yang baik dalam rangka kepentingan masyarakat. Seandainya semua bidang kehidupan dan bidang kegiatan menerapkan suatu standar profesional yang tinggi, bisa diharapkan akan tercipta suatu kualitas masyarakat yang semakin baik.

Selain itu, sebuah profesi harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Melibatkan kegiatan intelektual.
  2. Menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus.
  3. Memerlukan persiapan profesional yang alam dan bukan sekedar latihan.
  4. Memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan.
  5. Menjanjikan karir hidup dan keanggotaan yang permanen.
  6. Mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi.
  7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
  8. Menentukan baku standarnya sendiri, dalam hal ini adalah kode etik.

Pustakawan sebuah Profesi?

lmu pengetahuan semakin berkembang seirama perkembangan intelektual dan kultur manusia. Pengembangan itu akan melahirkan spesifikasi dan spesialisasi baru, disamping juga akan terjadi pergeseran nilai bahkan konflik sains dan konflik sosial. Konflik ini bukan saja antarbidang tetapi dapat terjadi interbidang itu sendiri.

Untuk mengantisipasi konflik dan mengarahkan perkembangan bidang, maka lahirlah etika profesi yang kadang disebut dengan kode etik. Dari sinilah lahir kode etik wartawan, kode etik dokter, kode etik hakim, dan lainnya. Adapun kode etik pustakawan di Indonesia disebut Kode Etik Pustakawan Indonesia yang terdiri dari 6 bab. Profesi bukan sekedar pekerjaan/vacation, akan tetapi suatu pekerjaan yang memerlukan keahlian/expertise, tanggung jawab/responsibility, dan kesejawatan/corporateness. Profesi informasi (termasuk pustakawan) memerlukan variable-variabel, pengembangan pengetahuan, penyediaansarana/insititusi, asosiasi, dan pengakuan oleh khalayak.

Profesi pustakawan pada jaman Mesir Kuno telah diakui dan memiliki kedudukan tinggi dalam pemerintahan dan mereka telah berpengalaman tinggi dan ahli bahasa. Profesi pustakawan di Indonesia secara resmi diakui berdasarkan SK MENPAN No. 18/MENPAN/1988 dan diperbaharui dengan SK MENPAN No. 33/MENPAN/1990, yang kemudian diperkuat dengan keputusan-keputusan lain yang berkaitan dengan kewajiban dan hak sebagai profesi dan fungsional pustakawan.

Pengembangan suatu profesi dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, budaya, ilmu dan teknologi yang dapat dibagi dalam 10 indikator yakni:

1. Tingkat kebutuhan masyarakat;

2. Standar keahlian;

3. Selektivitas keanggotaan;

4. Kemauan untuk berkembang;

5. Hubungan profesi dan ilmu pengetahuan;

6. Institusi;

7. Tingkat pendidikan;

8. Kode etik;

9. Pengamalan ilmu pengetahuan

10. Organisasi profesi

Profesi pustakawan pada mulanya menimbulkan pro dan kontra, sebab untuk menentukan suatu bidang itu termasuk profesi atau bukan perlu ditetapkan kriteria-kriteria tertentu yakni:

1. Memiliki Pola Pendidikan Tingkat Akademik

Pendidikan profesi tidak cukup hanya dengan penataran, tetapi perlu adanya pendidikan tingkat perguruan tinggi, baik tingkat Diploma, Strata 1, Strata 2, maupun Strata 3. Kini telah banyak perguruan tinggi yang membuka jurusan/program studi perpustakan antara lain di UGM, IAIN Sunan Kalijaga, UI, UNPAD, UNAIR, UNS, YARSI, dan lainnya.

2. Berorientasi pada jasa

Profesi pustakawan bergerak di bidang ilmu pengetahuan dan informasi untuk meningkatkan kehidupan intelektual masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu profesi ini pada mulanya bergerak dalam bidang sosial dan dalam perkembangannya sangat mungkin menuju pada orientasi keuntungan dalam batas-batas tertentu.

3. Tingkat Kemandirian

Tugas-tugas profesi pustakawn tidak harus dikerjakan di kantor atau tergantung pihak lain (atasan, pemakai, dan lainnya). Pustakawan dapat mengerjakan tugas-tugas kepustakawanan itu secara mandiri di manapun (apabila mau) misalnya menulis artikel, menulis buku, menyusun abstrak, membuat terjemahan, meresensi, menyampaikan makalah, maupun melakukan penyuluhan.

4. Memiliki Kode Etik

Kode etik ini disusun untuk mengembangkan dan mengarahkan perkembangan profesi. Apabila seorang profesional melanggar kode etik, maka dia akan ditegur, diperingaktkan, bahkan mungkin diberi sanksi oleh organisasi profesinya. (dalam hal ini IPI). Ikatan Pustakawn Indonesia telah memiliki kode etik yang dikenal dengan Kode Etik Pustakawan Indonesia.

5. Memiliki Batang Tubuh Ilmu Pengetahuan/Body of Knowledge

Ilmu perpustakaan telah berkembang dan selalu berkembang yang dalam perkembangannnya akan melahirkan cabang dan ranting dari pohon ilmu perpustakan dan informasi. Cabang dan ranting itu telah dipelajari di berbagai penataran, magang, dan pendidikan formal perpustakaan, misalnya: katalogisasi, klasifikasi, sirkulasi, pendidikan pemakai, dan lainnya.

6. Memiliki organisasi keahlian

Organisasi ini berfungsi merupakan media/alat untuk mengembangkan bidang, memajukan kualitas, mengusahakan kesejahteraan anggota, dan mengarahkan profesionalisme anggota. Bahkan organisasi inilah yang menetapkan kode etik profesi dan melaksanakan sanksi atas pelanggaran etika itu.

Di Inggris lahir organisasi pustakawan dengan nama Library Association/LA yang memiliki kewenangan kualifikasi pustakawan. Organisasi ini lahir tahun 1877 dan kini bermarkas di London dan pada tahun 1898 memperoleh Royal Charter dari Pemerintah Inggris. Pada mulanya organisasi ini memiliki sedikit anggota, tetapi dari tahun ke tahun semakin bertambah sehingga menjadi sekitar 35.000 anggota pada tahun 1988. Library Association ini menyelenggarakan penataran, magang, kursus penyegar, pendidikan dan menerbitkan direktori pustakawan yang disebut chartered librarians.

Pada umumya intansi/lembaga di Inggris apabila ingin menerima tenaga pustakawan, lebih dulu menanyakannya ke chartered librarians tersebut apakah yang bersangkutan telah tercatat sebagai anggota atau belum. Organisasi ini juga menerbitkan Library and Information Science Abstracts/LISA, Library Association Record, dan Journal of Librarianship.

Di Amerika juga terdapat organisasi serupa bernama American Library Association/ALA yang merupakan organisasi pustakawan tertua di dunia. Organisasi ini berdiri tanggal 6 Oktober 1876 di Philadelphia, dibentuk melalui kongres pustakawan yang dihadiri oleh Kossuth Melvil Dewey seorang penemu sistem klasifikasi persepuluhan. Organisasi profesi ini memiliki 3 (tiga) divisi yakni Chidren’s Service Division, Library Administration Division, dan Young Adult Service Division. Divisi=divisi ini bertugas untuk melaksanakan program ALA, menyusun pedoman berbagai bidang kegiatan (katalogisasi, klasifikasi, jasa rujukan, dan lainnya), menyelenggarakan pendidikan, penataran, dan pertemuan ilmiah. Disamping itu dengan Acreditation Committee, ALA sangat berperan dalam proses pendidikan pustakawan di Amerika.

American Libraies (terbit 11 kali/tahun) merupakan salah satu publikasi ALA disamping juga menerbitkan buku-buku dan laporan-laporan. Beberapa kemajuan yang dicapai ALA antara lain:

a. Meningkatnya perhatian masyarakat pada perpustakaan

b. Gaji pustakawan yang memadai

c. Penetapan standar yang tinggi pada pendidikan pustakawan dan jasa perpustakaan

d. Peningkatan sumbangan donatur dan industri dalam pengembangan perpustakaan

e. Peningkatan usaha untuk membantu negara lain dalam perencanaan jasa perpustakaan.

Kecuali ALA, di Amerika juga ada organisasi perpustakaan menurut negara-negara bagian misalnya; Ohio Library Association, South East Regional Library Association, Music Library Association, Special Library Association/SLA, maupun Association of College and Research Libraries.

Indonesia

Di Indonesia juga terdapat organisasi profesi pustakawan bernama Ikatan Pustakawan Indonesia/IPI (baca IPEI) yang dibentuk di Ciawi Bogor dalam Kongres Pustakawan se Indonesia pada tanggal 5 – 7 Juli 1973. Namun demikian sebelum organisasi ini dibentuk, di Indonesia telah berdiri beberapa organisasi perpustakaan maupun pustakawan, baik jaman Belanda, menjelang kemerdekaan, atau sebelum terjadinya kongres tersebut.

Kode Etik Pustakawan Indonesia

Berkat rakhmat Tuhan Yang Maha Esa, Indonesia telah mencapai  kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.Dalam rangka mencapai tujuan kemerdekaan nasional, yakni  mewujudkan masyarakat adil makmur yang merata dan  berkesinambungan material dan spiritual, diperlukan warganegara  Indonesia yang berkeahlian dalam berbagai bidang termasuk  pustakawan yang setia dan taat kepada Pancasila dan Undang‑undang  Dasar 1945.

Pustakawan yang telah sepakat bergabung dalam organisasi  profesi Ikatan Pustakawan Indonesia dengan niat yang luhur serta  penuh kesungguhan mengabdikan dirinya dengan jalan memberikan  pelayanan perpustakaan, dokumentasi dan informasi dengan tujuang  meningkatkan pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat, bangsa dan  negara.

Menyadari eksistensi serta peranannya dalam masyarakat,  dengan ini Ikatan Pustakawan Indonesia mengikrarkan Kode Etik  Pustakawan Indonesia.

BAB I

Pengertian Pustakawan

Pustakawan adalah seorang yang melaksanakan kegiatan  perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat  sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu  perpustakaan, dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui  pendidikan.

BAB II

Kewajiban Umum

  1. Pustakawan Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa  profesi pustakawan adalah profesi yang terutama  mengembangkan tugas pendidikan dan penelitian.
  2. Setiap Pustakawan Indonesia dalam menjalankan profesinya  menjaga martabat dan moral serta mengutamakan pengabdian  pada negara dan bangsa.
  3. Setiap Pustakawan Indonesia menghargai dan mencintai  kepribadian dan kebudayaan Indonesia.
  4. Setiap Pustakawan Indonesia mengamalkan ilmu pengetahuannya  untuk kepentingan sesama manusia, masyarakat, bangsa dan  agama.
  5. Setiap Pustakawan Indonesia menjaga kerahasiaan informasi  yang bersifat pribadi yang diperoleh dari masyarakat yang  dilayani.

BAB III

Kewajiban Kepada Organisasi dan Profesi

1.         Setiap Pustakawan Indonesia menjadikan Ikatan Pustakawan  Indonesia sebagi forum kerjasama, tempat konsultasi dan  tempat pengemblengan pribadi guna peningkatan ilmu  pengembangan profesi antara sesama pustakawan.

2. Setiap Pustakawan Indonesia memberikan sumbangan tenaga,  pikiran dan dana kepada organisasi untuk kepentingan  pengembangan ilmu dan perpustakaan di Indonesia.

3. Setiap Pustakawan Indonesia menjauhkan diri dari perbuatan  dan ucapan serta sikap dan tingkah laku yang merugikan  organisasi dan profesi, dengan cara menjunjung tinggi nama  baik Ikatan Pustakawan Indonesia.

4. Setiap Pustakawan Indonesia berusaha mengembangkan  organisasi Ikatan Pustakawan Indonesia dengan jalan selalu  berpartisipasi dalam setiap kegiatan di bidang perpustakaan  dan yang berkaitan dengannya.

BAB IV

Kewajiban Antarasesama Pustakawan

1. Setiap Pustakawan Indonesai berusaha memelihara hubungan  persaudaraan dengan mempererat rasa solidaritas antara  Pustakawan.

2. Setiap Pustakawan Indonesia saling membantu dalam berbuat  kebijakan dalam mengembangkan profesi dan dalam melaksanakan  tugas.

3. Setiap Pustakawan Indonesia saling menasihati dengan penuh  kebijaksanaan demi kebenaran dan kepentingan pribadi,  organisasi dan masyarakat.

4. Setiap Pustakawan Indonesia saling menghargai pendapat dan  sikap masing‑masing, meskipun berbeda.

BAB V

Kewajiban Terhadap Diri Sendiri

1.  Setiap Pustakawan Indonesia selalu mengikuti perkembangan  ilmu pengetahuan, terutama ilmu perpustakaan, dokumentasi  dan informasi.

2. Setiap Pustakawan Indonesia memelihara akhlak dan kesehatan‑  nya untuk dapat hidup dengan tenteram dan bekerja dengan  baik.

3. Setiap Pustakawan Indonesia selalu meningkatkan pengetahuan  serta keterampilannya, baik dalam pekerjaan maupun dalam  pergaulan di masyarakat.

BAB VI

Pelaksanaan Kode Etik

Setiap Pustakawan Indonesia mempunyai tanggung jawab moral untuk  melaksanakan Kode Etik ini dengan sebaik‑baiknya.

Allerton Park Institute. Ethics and the librarian.  Urbana,Illinois: University of Ilinois

Graduate School of Library and Information Science, 1991.

America Library Association. “Statement on professional ethics adopted ny ALA

Council, June 30, 1981.” American Libraries, 13, October 1982:595

Arlante, S.M. and R. Y. Tarlis. “The professionalization of librarians: a unique

Bayles, M. D.   Profesional ethics.  2nd ed.  Belmont, Calif.: Wadsworth, 1989.

Bekker, J.Professional ethics and its application to librarianship.  Unpublished

dissertation, Case Western Reserve University [Cleveland,Ohio], 1976.

Finks, Lee W. And Elisabeth Soekefeld. Encyclopedia             of Library and Information

Science. vol 52 supplement  15, 1993 s.v. “Professional ethics,”

Hauptman, R. Ethical challenges in librarianship.  Phoenix, A: Oryx Press, 1988

Kochen, M.      “Ethics and information science,” Journal of the American Society for Information Science, 38, May 1987:206-10

Kultgen, J. H. Ethics and professionalism.  Philadelphia, PA: University of Pennsylvania ,   Press, 1988.

Library Association of Singapore. Code of ethics.http://www.faife.dk/lascode.htm. 24 November 2000

Magnis-Suseno, Franz. Etika sosial.  Jakarta: APTIK bekerja sama dengan Gramedia  Pustaka Utama, 1991.

Pendit, Putu (a) . Kode etik. 20 November 2000. i_c_s@groups.com.   Akses tgl 27 November 2000.

Pendit, Putu (b). Kode etik (2). 21 November 2000. i_c_s@egroups.com. 27 November 2000.

Pendit, Putu. Sangsi moran (Re:saran dan komentar untuk Kode Etik). 27 Nov. 200.

i_c_s@egroups.com. 28 November 2000

Persatuan Pustakawan Malaysia (Librarians Association of Malaysia). Code of ethics.

http://www.faife.uk/ethics/faifecode. 22 November 2000.

Professional Regulation Commission of the Republic of Philippines. Code of ethics for registered librarians.  1992. http://www.faife.dk/ethics/bbcode   24 November 2000

Prins, Hans and Wilco de Gier. “Image, status and reputation of librarianship and  information work,”IFLA Journal, 18 (2) 1992:108-118

PENELITIAN TINDAKAN BAGIAN II

PENELITIAN TINDAKAN

BAGIAN II

Encang Saepudin

A.    Jenis-jenis Penelitian Tindakan

Penelitian tindakan menurut Kemmis dan Tagart (1988) dibai ke dalam empat jenis, yaitu:

1.      Penelitian tindakan diagnosis

Peneliti masuk ke dalam situasi yang telah ada serta mendiagnosis situasinya. Selanjutnya peneliti membuat beberapa rekomendasi mengenai tindakan perbaikannya. Rekomendasi itu sendiri tidak diuji sebelumnya, namun dihasilkan berdasarkan kumpulan pengalaman masa lalu dan hasil diagnosis saat itu.

2.      Penelitian tindakan partisipan

Orang yang akan melaksanakan penelitian tindakan harus terlibat dalam proses penelitian dari awal, sehingga dpat disadari perlunya melaksanakan program tindakan tertentu dan dapat menghayatinya. Tanpa kolaborasi ini diagnosis dan rekomendasi tindakan untuk mengubah situasi tidak akan mendorong adanya perubahan yang diharapkan.

3.      Penilitian tindakan empiris

Melakukan sesuatu dan membakukan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi. Proses penelitian intinya berkenaan dengan penyimpanan catatan dan pengumpulan pengalaman dalam pekerjaan sehari-sehari.

4.      Penelitian eksperimental

Dalam penelitian ini, teknik tindakan terkontrol secara efektif. Penelitian ini memiliki nilai potensi tinggi untuk kemajuan pengetahuan ilmiah. (Zuriah: 86)

  

B.     Model-model penelitian Tindakan

Model penelitian tindakan pertama kali dibuat oleh Kurt Lewin (1940). Model tersebut didasarkan atas atas dasar bahwa penelitian tindakan terdiri dari empat komponen pokok yang sekaligus menunjukan langkah-langkah penelitian, yaitu:

1         Perencanaa (Planning)

2         Tindakan (acting)

3         Pengamatan (observing)

4         Refleksi (reflecting)

Hubungan antara keempat komponen tersebut menunjukan sebuah siklus (kegiatan) berkelanjutan dan berulang. Siklus inilah yang sebenarnya menjadi salah satu cirri utama penelitian tindakan, sehingga tidak dilakukan dalam satu kali intervensi saja (Arikunto, 2002: 82).

Bentuk visualisasi dari model penelitian tindakan kurt Lewin tersebut dapat digambarkan pada gambar 3.1 berikut ini.

Sumber: Arikunto, 2002: 84

Gambar 3.1 Model penelitian tindakan Kurt Lewin

Model Kurt Lewin diatas selanjutnya dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Tagart (1988) yang memandang komponen sebagai langkah dalam siklus, sehingga mereka menyatukan komponentindakan dan pengamatan sebagai satu kesatuan. Hasil pengamatan ini kemudian di jadikan sebagi dasar langkah berikutnya yaitu refleksi (mencermati apa yang sudah terjadi). Selanjutnya ddisusun sebuah modifikasi yang diaktualisasikan dalam bentuk rangkaian tindakan dan pengamatan lagi, begitu seterusnya.

Model penelitian tindakan yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Tagart digambarkan dalam Gambar 3.1.2.

 

(Arikunto, 2002: 84)

Gambar 3.2 Model penelitian tindakan Kemmis dan Kc Taggart

Pada proses transformasi informasi dalam pembuatan paket informasi terseleksi, peneliti menggunakan metode penelitian tindakan dengan mengadopsi model yang dikembangkan oleh Kmmis dan Mc Tagart

 

 

 

 

C.     Prosedur Penelitian Tindakan

Prosedur penelitian tindakan secara umum dibagi atas 8 (delapan) tahap, Yaitu :

1

Tahap I

:

Identivikasi-evaluasi-formulasi masalah yang dipandang kritis    dalam situasi sehari-hari

2

Tahap II

:

Diskusi pendahuluan atau perundingan diantara kelompok yang berminat/terlibat

3

Tahap III

:

kajian pustaka, jumlah penelitian yang relevan dalan hal sasaran, prosedur dan masalah.

4

Tahap IV

:

modivikasi rumusan awal masalah.

5

Tahap V

:

Pemilihihan prosedur penelitian, administrasi penelitian dan tindakannya, pemilihan bahan

6

Tahap VI

:

Pemilihan prosedur evaluasi dan melaksanakan prinsip    konstinuitas serta menetapkan sasaran evaluasi.

7

Tahap VII

:

Pelaksanakan proyek penelitian tindakan

8

Tahap VIII

:

Pemaknaan data, penarikan inferensi dan penilaian seluruh proyek penelitian serta diskusi penemuan berdasarkan kriteria yang telah disetujui. (Zuriah, 2003 : 84)

Operasionalisasi dalam penelitian tindakan oleh peneliti umumnya dari tahap refleksi awal untuk melakukan studi pendahuluan yang diikuti dengan perencanaan, tindakan  observasi, dan refleksi. Secara singkat tahapan operasionalisasi tersebut digambarkan dalam Gambar 3.3.

 

  Tahap I              TAHAP II                  TAHAP III                 TAHAP IV

  Refleksi             perencanaan                Tindakan –                 Refleksi

    (Ra)                      (P-T)                          Observasi                         (R)

                                                             (T-O)

 

 

(Zuriah, 2003: 84)

Gambar 3.3 Operasional tahapan penelitian tindakan

Tahap-tahap ini  nantinya akan menjadi dasar pelaksanaan proses transformasi informasi dalam pembuatan paket informasi terseleksi. Selanjutnya tahapan-tahapan ini tersebut akan diuraikan sebagai berikut :

1. Tahap (Refleksi awal)

Tahap ini dilakukan setelah tema penelitian dirumuskan dan mendahului rencana awal, sehingga disebut sebagai tahap khusus. Dalam tahap ini dilakuka kegiatan penjagaan dimanfaatkan untuk mengumpulkan informasi tentang situasi-situasi yang relevan dengan tema penelitian. Penjagaan bertujuan untuk mengungkapkan dan menyadarkan diri peneliti akan adanya permasalahan yang perlu dipecahkan. Peneliti melakukan pengamatan pendahuluan untuk mengenali dan mengetahui situasi yang sebenarnya.

Berdasarkan hasil pengamatan pendahuluan, dapat diidentifikasikan permasalahan-permasalahan yang ada sekaligus ditentukan prioritasnya. Permasalahan tersebut dapat berupa wawasan konseptual, sikap, kecendurangan maupun yang bersifat teknis. Pemahaman terhadap hal-hal ini akan memandu untuk sampai pada permasalahan yang di hadapi. Selanjutnya dari permasalahan tersebut akan dapat ditentukan tema peneitian yang akan memberikan arah bagi penentuan tujuan serta memperoleh tindakan (subyek penelitian).

2. Tahap II (Perencanaan)

Penyususnan perencanaan didasarkan dari hasil penjagaan tentang situasi. Berdasrkan hasil studi pendahuluan nantinya akan dapat diidentifikasi sejumlah permasalahan. Permasalahan yang dujumpai, dijabarkan serinci mungkin yang selanjutnya dituangkan dalam suatu rencana. Secara rinci perencanaan tersebut berisi tentang apa yang dilakukan beserta rasionalnya, siapa yang akan melakukan, dimana, kapan, dan bagaimana kegiatan penelitian dilakukan.

Kegiatan tahap perencanaan ini akan melahirkan gambaran umum tentang rencana penelitian tindakan, yaitu :

a. Gambaran tema penelitian berdasrkan alasan pemilihannya

b. Gambaran tentang subyek penelitian beserta alasana pemilihannya

c. Rasional singkat tentang rencana perubahan yang akan dilakukan

d. Rincian kegiatan yang mencakup apa yang dilakukan, siapa yang melakukan, kapan dan bagaimana melakukannya.

e. Gambaran tentang cara melakukan perubahan terhadapa sesuatu yang sedang berjalan.

f. Gambarab tentang rencana tindakan dan efek yang akan menyertainya

g. Gambaran tentang cara memonitor efek dari rencana tindakan yang akan dilakukan

h. Gambaran tentang proses pengumpulan data, analisis data dan refleksinya. (Zuriah, 2003:78)

Secara teknis, rancangan penelitian memuat penetapan bukti atau indicator yang menunjukan seberapa jauh masalah yang dipilih dapat dipecahkan melalui tindakan yang dilakukan. Selain itu, memuat juga perumusan rancangan tindakan sebagai acuan dalam melakukan tindakan beserta rancangan evaluasinya , perancangan alat dan metode dalam pendokumentasian data atau informasi yang relevan dan perencanaan metode pengolahan data. Perencanaan bersipat lentur, artinya dapat berubah sesuai dengan kondisi nyata yang ada dilapangan. Oleh karena itu peneliti dituntut untuk selalu siap menghadapi perubahan-perubahan yang mungkin terjadi.

 

3. Tahap III (Tindakan dan Pengamatan)

Tahap ini merupakan penjabaran rencana ke dalam tindakan dan mengamati jalannya tindakan. Umpan balik perlu segera dilakukan sebagai bahan untuk segera dimemodifikasi rencananya. Pada saat tindakan dilaksanakan, kegiatan pengamatan yang cermat dan produktif perlu dilakukan, sehingga diperoleh data

Untuk refleksi. Kegiatan pengamatan dimaksudkan untuk mengenali, merekam, mendokumentasikan semua indicator (baik proses maupun hasil) perubahan-perubahan yang terjadi sebagai akibat dari tindakan terencana atau sebagai efek sampingnya.

Pada tahap ini, peneliti melakukan konsep-konsep dalam proses tranformasi informasi yang digunakan dalam pembuatan paket informasi terseleksi. Sekaligus dalam tahap ini peneliti melakukan pengamatan berkaitan dengan produk yang akan dihasilkan.

 

4. Tahap IV (Refleksi)

Tahap ini melibatkan kegiatan menganalisis, mensintesis, memaknai, menjelaskan dan menyimpulkan. Kegiatan refleksi dipandang sebagi upaya untuk memahami dan memaknai proses dan hasil yang dicapai sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan. Hasil dari kegiatan refleksi adalah informasi tentang apa yang terjadi dan apa yang perlu dilakukan.

 

PENELITIAN TINDAKAN

PENELITIAN TINDAKAN

(Action Research)

Encang Saepudin

 

A.    Pengertian Penelitian Tindakan (Action Research)

Penelitian tindakan menuntut adanya perkembangan. Menurut Arikunto (2002: 18), penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi di masyarakat atau kelompok sasaran, dan hasinya langsung dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan. Karakteristik utama penelitian ini adalah partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dengan anggota sasaran. Penelitian tindakan adalah salah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang ‘dicoba sambil jalan’ dalam mendeteksi dan memecahkan masalah.

Kemmis (1983) menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan upaya mengujicobakan ide-ide ke dalam praktek untuk memperbaiki atau mengubah sesuatu agar memperoleh dampak nyata dari situasi. Kemmis dan Taggar (1988) juga menyatakan bahwa penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian reflektif diri yang secara kolektif dilakukan peneliti dalam situasi social untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktek pendidikan dan social mereka, serta pemahaman mereka mengenai praktek dan terhadap situasi temapat dilakukan praktek-praktek tersebut (Zuriah, 2003:54).

Selanjutnya Zuriah, (2003:54) membuat sebuah kesimpulan bahwa penelitian tindakan menekankan kepada kegiatan (tindakan) dengan mengujicobakan suatu id eke dalam praktek atau situasi nyata dalam skala mikro yang diharapkan kegiatan tersebut mampu memperbaiki, meningkatkan kualitas dan melakukan perbaikan social. Esensi penelitian tindakan terletak pada adanya tindakan dalam situasi yang alami untuk memecahkan permasalahan-permasalahan prasktis atau meningkatkan kualitas praktis. 

B. Konsep Penelitian Tindakan

Dalam melakukan penelitian tindakan, menurut Zuriah ada enam asas yang perlu diperhatikan yaitu:

1.  Asas kritik reflektif, merupakan upaya dalam menilai apa yang telah dilakukan berdasarkan data yang dikumpulkan. Hal ini untuk mencari alternative-alternatif tindakan yang inovatif yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Langkah yang perlu ditempuh dalm kritik reflektif yaitu mengumpulkan catatan-catatan yang telah dibuat, menerangkan dasar reflektif yang menyangkut catatan-catatan tersebut dan mentranformasi pernyataan menjadi pernyataan serta sejumlah alternative yang memungkinkan dapat digunakan sebagai rekomendasi yang belum terpikirkan sebelumnya.

2.  Asas kritik dialektis, memberikan kritik terhadap gejala yang dijumpai dalam penelitian. Karakteristik dari gejala penelitian yaitu terpisah tetapi dalam konteks hubungan yang perlu ada, satu tetapi bermacam-macam, cenderung berubah.

3. Asas sumber daya kolaboratif, sudut pandang setiap orang akan dianggap memberikan andil pada pemahaman.

4.  Asas resiko, keberanian peneliti untuk mengambil resiko itu misalnya prediksi-prediksi penelitian yang tidak tepat sehingga ada tuntutan untuk melakukan tranformasi.

5.  Asas struktur majemuk, berhubungan dengan sifat penelitiantindakan yaitu dialektis, refleksifdan kolaboratif.

6. Asas teori, praktik dan transformasi, kegiatan penelitian dilakukan setelah memperoleh pemahaman teoritis, teori dan praktek merupakan dua tahap proses yang berbeda yang saling bergantung dan mendukung proses perubahan, (Zuriah, 2003:54-58)

Sementara itu menurut H.D. Udjana (1998), asas-asas penelitian tindakan meliputi 4 hal, yaitu:

1.  Aktualitas, mengkaji yang actual dan hangat yang memamg dibutuhkan pada saat sekarang

2.  Kolaboratif, membutuhkan saling keterkaitan antar orang dan sumber-sumber yang saling mendukung keberhasilan penelitian.

3.  Partisipatif, bekerja sama dengan subyek penelitian untuk melakukan sesuatu sesuai kebutuhan.

4.  Kontinuitas, hasil penelitian harus bermakna dan bermanfaat untuk pengembangan dan pembaruan terus-menerus. (Zuriah, 2003: 59)

Setiap jenis penelitian memiliki karakteristik tertentu yang membedakannya dengan penelitian lain. Untuk itu, Kemmis dan Tagar (1990) mengemukakan cirri-ciri pokok penelitian tindakan ke dalam tujuh belas poin, yaitu :

1.       Penelitian tindakan merupakan pendekatan untuk meningkatkan pendidikan dengan merubahnya dan mempelajaridampak dari perubahan tersebut.

2.       Bersifat partisipatori yaitu penelitian yang diterapkan oleh paraktisi terutama untuk meningkatkan kualitas pelaksana tugas mereka sendiri.

3.       Penelitian tindakan dilaksanakan dengan mawas diri yitu spiritual siklus perencanaan, tindakan, observasi, mawas diri dan selanjutnya perencanaan kembali.

4.        Bersifat kolabaratif yaitu melibatkan semua orang yang bertanggung jawab dalam usaha peningkatan obyek penelitian.

5.       Menetapkan masyarakat yang mampu melaksanakan kritik yang terdiri dari orang-orang yang berpartisipasi dan berkolaboratif dalam seluruh fase proses penelitian.

6.        penelitian tindakan merupakan proses belajar yang sistematis dimana orang bertindak secara sadr walaupun masih ada kejutan tanggap terhadap kesempatan yang ada. 

7.        Melibatkan orang-orang dalam berteori dengan prakteknya, yaitu menjadi inkluistif terhadap lingkungan, tindakan dan dampak serta menjadi mengerti hubungan antara lingkungan, tindakan dan dampak.

8.       Menguji ide-ide dan asumsi tentang institusi dengan mengumpulkan buku yang dapat meyakinkan mereka bahwa praktek-praktek, ide-ide dan asumsi yang terdahulu salah atau salah arah.

9.       Terbuka terhadap bukti (data), melibatkan catatan-catatan, pengumpulan dan analisi penilaian, reaksi dan kesan.

10.   Melibatkan pembuatan jumlah pribadi yang mengandung kemajuan yaitu belajar tentang praktek yang diteliti dan belajar tentang proses penelitiannya.

11.   Penelitian tindakan merupakan proses politik sebabmelibatkan orang-orang untuk melakukan perubahan yang akan mempengaruhi orang lain.

12.   Penelitian tindakan melibatkan orang-orang dalam melakukan analisis kritis tentang situasi lembaganya.

13.   Penelitian tindakan dimulai dengan hal-hal kecil dengan melaksanakan perubahan yang dapat dicoba dengan hanya saty obyek dan berikutnya berupaya mencapai perubahan yang lebih besar.

14.   Penelitian tindakan dimulai dengan siklus perencanaan, tindakan observasi dan refleksi dalam skala kecil yang dapat membantu dalam merumuskan pertanyaan yang lebih kokoh dalam proses pekerjaan.

15.   Penelitian tindakan dimulai dengan kelompok kolaborator dalam skala kecil dan secara bertahap melibatkan makin banyak orang yang dilibatkan dan terpengaruh oleh paraktek yang diteliti.

16.   Penelitian tindakan memungkinkan peneliti membuat rekaman tentang kemajuan penelitian berupa rekaman tentang perubahan kegiatan dan prakteknya, perubahan dalam bahasa dan wacana yang digambarkan, perubahan dalam hubungan social dan hambatan dalam praktek serta rekaman tentang perkembangan dalam penguasaanpenelitian tindakan yang dilakukan.

17.   enelitian tindakan memungkinkan peneliti memberikan justifikasi karena peneliti dapat menunjukan bagaimana bukti yang dikumpulkan dan refleksi kritis yang telah dilakukan peneliti membantu menciptakan sesuatu yang dikembangkan, diuji dan pemikiran yang teruji secara kritis. (Zuriah:60-61)

Selain hal diatas, Dimyati (2000) menyatakan bahwa Action Research adalah penelitian tindakan dengan tindakan untuk mengadakan perubahan-perubahan sehingga menjadi lebih baik. Cirri-ciri Action reseach yang dikemukakan oleh Dimyati yaitu:

1.       Kegiatan perbaikan yang merupakan suatu program berdasarkan penelitian.

2.       Pelaku kegiatan dibedakan menjadi dua golongan, yaitu peneliti yang   bertanggung jawab atau tim peneliti di bawah pimpinan seorang ilmuan dan petugas yang bertugas sehari-hari bertindak dalam lembaga yang bersangkutan.

3.       Kegiatan pengumpulan informasi tentang system perilaku atau komponen-komponen dalam kegiatan yang lengkap, rinci dan bermanfaat dalam perbaikan realitas social.

4.       Kegiatan pengumpulan data yang keras selama waktu penelitian yang bermanfaat bagi perbaikan realitas social dan bila mungkin dapat disebar luaskan pada realitas lain yang konteksnya serupa.

5.       Alat untuk membuat warga masyarakat atau petugas pada lembaga yang bersangkutan memahami kekuatan mereka sendiri sehingga mendorong terwujudnya perbaikan atau perubahan social secara terus-menerus.

6.       Menghasilkan laporan penelitian yang berisi data perilaku, konsep dan teori ‘mendasa’ awal sifat kronologis yang diuji lebih lanjut.

7.       Berakhirnya action research memberikan dua faedah ganda yaitu lembaga yang menjadi sasaran penelitian dapat tumbuh menjadi lembaga perbaikan realitas social yang diteliti.

Berdasarkan cirri-ciri diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan merupakan pengaplikasian ide-ide ke dalam praktek yang didasari oelh ilmu (teori) sebagai pendukungnya untuk menghasilkan dampak positif yang mengarah pada peningkatan kualitas dan perbaikan pada sasaran penelitian dan melibatkan banyak orang sesuai dengan kepentingan-kepentiangan yang bersangkutan.

Arikunto (2002: 82) mengemukakan bahwa penelitian tindakan yang dilakukan harus memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut :

1.      Permasalahan yang dipilih harus memenuhi criteria, yaitu benar-benar nyatadan penting, menarik perhatian, mampu ditangani dan berada dalam jangkauankewenangan peneliti untuk melakukan perubahan.

2.      Kegiatan penelitian yang dilakukan tidak boleh mengganggu atau menghambat kegiatan utama

3.      Jenis intervensi yang dicobakan yang harus efektif dan efisien, yaitu tepat sasaran dan tidak memboroskan waktu, dana dan tenaga.

4.      Metodologi yang digunakan harus jelas, rnci dan terbuka.

5.      Kegiatan penelitian diharapkan merupakan proses kegiatan proses kegiatan yang berkelanjutan, mengingat pengembangan dan pengembangan dan perbaikan terhadap kualitas tindakan memang tidak dapat terhenti tetapi menjadi tantangan sepanjang waktu.

Dalam penelitian tindakan peneliti dapat bertindak sebagai peneliti dan partisipasi perbaikan dalam arti ikut memperbaiki secara kritis. Selainitu, pengumpulan data dan analisis dilakukan secara serentak.

Penelitian tindakan memiliki lima kategori fungsi menurut Cohen dan Manion (1989), yaitu:

1.      Alat untuk memecahkan masalah yang dilakukan dengan diagnosis dalam situasi tertentu.

2.      Alat pelatihan dalam aktivitas

3.      Alat untuk mengenalkan pendekatan tambahan atau yang inovatif

4.      Alat untuk meningkatkan komunikasi dan memperbaiki kegagalan penelitian sebelumnya.

5.      Alat untuk menyediakan alternative atau pilihan yang lebih baik untuk mengantisipasi pendekatan yang lebih subyektif dalam memecehkan masalah.

Dalam kelima fungsi diatas, Zuriah (2003:69) menyimpulkan bahwa fungsi utama penelitian tindakan adalah sebagai alat untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi pekerjaan.

 

 

 

 

KEBIJAKAN SELEKSI GUNA MENDUKUNG KEGIATAN PENGEMBANGAN KOLEKSI

KEBIJAKAN SELEKSI GUNA MENDUKUNG KEGIATAN PENGEMBANGAN KOLEKSI

 Oleh

Encang Saepudin

Sebuah paradigma baru menyimpulkan bahwa, salah satu kriteria penilaian layanan perpustakaan yang bagus adalah dilihat dari kualitas koleksinya. Koleksi yang dimaksud tentu saja mencakup berbagai format bahan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan alternatif para pemakai perpustakaan terhadap media rekam informasi. Setiap kegiatan lain di perpustakaan akan bergantung pada pemilikan koleksi perpustakaan yang bersangkutan. ( Ade Kohar, 2003 )

Oleh karena itu, koleksi yang ada – sebagai kekulatan utama perpustakaan -  perlu dikembangan dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat penggunanya. Menurut ALA Glossary of Library and Information Science (1983) pengembangan koleksi merupakan sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan penentuan dan koordinasi kebijakan seleksi, menilai kebutuhan pemakai, studi pemakaian koleksi, evaluasi koleksi, identifikasi kebutuhan koleksi, seleksi bahan pustaka, perencanaan kerjasama sumberdaya koleksi, pemeliharaan koleksi dan penyiangan koleksi perpustakaan.

Sedangkan menurut  Prof.  Dr. Sulistyo Basuki pengertian pengembangan koleksi lebih ditekankan pada pemilihan buku. Pemilihan buku artinya memilih buku untuk perpustakaan. Pemilihan buku berarti juga proses menolak buku tertentu untuk perpustakaan. Selanjutnya pengertian pengembangan koleksi mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan bidang kepustakawanan. Pengembangan koleksi, seleksi dan pengadaan menjadi istilah-istilah yang saling melengkapi.

Tujuan pengembangan koleksi yaitu membangun koleksi yang sesuai dengan kebutuhan pemakai dan didayagunakan secara optimal. Pengembagan koleksi merupakan kegiatan yang sangat  penting dalam perpustakaan terutama  untuk memperluas koleksi yang ada.  Pengembangan koleksi ini terutama berkaitan dengan pemilihan dan evaluasi. Pemilihan adalah proses mengidentifikasi rekaman informasi yang akan ditamabhkan pada koleksi yang telah ada di perpustakaan, sedangkan pengembangan koleksi. Evaluasi mencakup semua upaya untuk mengetahui sejauh mana tujuan dari seluruh rangkaian kegiatan pemilihan, pengadaan, dan pemeliharaan koleksi telah mencapai.

Pedoman untuk mengevaluasi koleksi perpustakaan yang dikeluarkan oleh American Library Association membagi metode kedalam ukuran-ukuran terpusat pada koleksi dan ukuran-ukuran terpusat pada penggunaan. Didalam setiap kategori ada sejumlah metode evaluasi khusus. Perpustakaan perlu melakukan evaluasi koleksi secara periodik dan sistematik untuk memastikan bahwa koleksi itu mengikuti perubahan yang terjadi, dan perkembangan kebutuhan dari masyarakat  yang dilayani.

Dalam melakukan pengembangan koleksi, pustakawan harus mengetahui betul tujuan perpustakaan yang dikelolanya serta masyarakat yang dilayaninya. Pada dasarnya tujuan perpustakaan  adalah untuk  memenuhi kebutuhan pendidikan dan pengajaran, penelitian, social, informasi religi, rekreasi, dan deposit.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pemakai, perpustakaan harus mampu mengkaji / mengenali siapa masyarakat pemakainya dan informasi apa yang diperlukan, mengusahakan tersedianya jasa pada saat diperlukan, serta mendorong pemakai untuk menggunakan fasilitas yang telah disediakan oleh perpustakaan. Dengan adanya aktivitas kebijakan seleksi akan dapat membantu perpustakaan dalam mengidentifikasi rekaman informasi yang ada di dalam perpustakaan itu sendiri.

Setiap perpustakaan melayani kelompok pemakai dengan ciri-ciri khas tertentu, dan perlu merencanakan jasa-jasa serta koleksi yang sesuai dengan kebutuhan pemakainya. Oleh karena itu, pengetahuan yang mendalam mengenai masyarakat yang dilayani harus dimiliki oleh pustakawan. Cara informal dan cara formal dapat ditempuh oleh pustakawan guna melakukan kajian mengenai pemakai. Sambil melakukan kegiatan sehari-harinya pustakawan dapat mengobservasi pemakainya, misalnya dengan rajin membaca surat kabar lokal dengan memperhatikan berita tentang kegiatan dan kejadian setempat, mengetahui organisasi-organisasi apa saja yang ada dalam wilayahnya dan apa kegiatan organisasi tersebut, dsb. Dengan melakukan hal-hal tersebut pustakawan sudah mendapat gambaran tentang apa yang kira-kira diperlukan oleh pemakainya.

Namun, cara informal sering menghasilkan gambaran yang subjektif, karena terbatas pada apa yang diobservasi oleh satu orang atau beberpa orang tertentu, sehingga apa yang diamati belum tentu mewakili kondisi seluruh masyarakat. Oleh karena itu cara informal ini perlu dilengkapi denga cara yang lebih formal yaitu mengadakan survai atau studi khusus (community analysis) yang akan menghasilkan profil masyarakat (community profile) yang harus dilayani.

Pendekatan secara  formal dapat menghasilkan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai masyarakat, sehingga pustakawan dapat menempatkan apa yang telah mereka ketahui dalam kerangka yang lebih luas. Jenis data yang diperklukan adalah data mengenai aspek-aspek: historis, geografis, transportasi, administratif, politik, demografi, ekonomi, komunikasi dan media massa, organisasi/lembaga sosial dan pendidikan, organisasi/lembaga kebudayaan dan fasilitas rekreasi, serta perpustakaan atau unit informasi lain dalam wilayah administrasi yang sama.

Pengembangan koleksi merupakan proses memastikan bahwa kebutuhan informasi dari para pemakai akan terpenuhi secara tepat waktu dan tepat guna ( efisien-efektif ) dengan memanfaatkan sumber-sumber informasi yang dihimpun oleh perpustakaan. Sumber-sumber informasi tersebut harus dikembanngkan sebaik-baiknya sesuai dengan kondisi perpustakaaan dan masyarakat yang dilayani. Dalam hal ini kebijakan seleksi menjadi asfek utama dalam pengembangan koleksi.

 

A.     Kebijakan pengembangan koleksi

Isi kebijakan dimulai dengan penjelasan singkat mengenai visi, misi perpustakaan, dan sasaran yang ingin dicapai, deskripsi singkat tentang masyarakat yang dilayani dan koleksi yang telah ada. Dilanjutkan dengan:

1. Penjelasan mengenai siapa yang bertanggungjawab atas pengelolaan perpustakaan dan siapa yang diberi wewenag untuk seleksi

2. Metode pemilihan, pengaturan anggaran, komposisi masyarakat yang dilayani dan prioritas (jika ada), dan informasi lain yang dianggap perlu, misalnya:

a. Pedoman dan kriteria seleksi

b. Daftar timbangan buku (review) atau tipe timbangan buku yang digunakan untuk seleksi.

3. Masalah-masalah khusus, mis: bahan yang tidak dikoleksi, jumlah eksemplar/judul, penjilidan, penggantian bahan yang hilang, dll.

4. Penjelasan mengenai komposisi koleksi yang akan dikembangkan, dibagi atas bidang subjek dan keterangan mengenai prioritas.

 

Tiap bidang subjek disarankan dirinci sbb.:

a. tingkat kedalaman/kelengkapan

- koleksi yang sudah ada

- penambahan yang sedang berjalan

- penambahan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan/atau program yang ada

b. Bahasa

c. Cakupan periode

d. Cakupan geografis

e. Format yang akan dibeli/tidak dibeli

f. Siapa yang bertanggungjawab atas seleksi

5.  Bahan berbahasa asing

6. Jenis bahan perpustakaan berdasarkan format, definisi tiap jenis dan kategorinya, keterangan mana yang dibeli dan mana yang tidak, pentingnya bahan tersebut bagi koleksi atau pemakai

7.  Penanganan hadiah

8.  Pinjam antar perpustakaa, jaringan dan bentuk kerjasama lain yang berpengaruh pada pengembangan koleksi

9.  Kriteria dan cara penyiangan

10. Sikap perpustakaan terhadap sensor dan masalah lain yang berkaitan dengan kebebasan intelektual (intellectual freedom)

 

 

Fungsi kebijakan pengembangan koleksi tertulis:

1.  Pedoman bagi selektor

2.  Sarana komunikasi: memberitahu pemakai mengenai cakupan dan ciri-ciri koleksi yang telah ada dan rencana pengembangannnya

3.  Sarana perencanaan baik perencaan anggaran maupun pengembangan koleksi

4.  Membantu menetapkan metode penilaian bahan

5.  Membantu memilih metode pengadaan

6.  Membantu menghadapi masalah sensor

7.  Membantu perencaan kerjasama

8.  Membantu identifikasi bahan yang perlu dipindahkan ke gudang atau dikeluarkan dari koleksi (evaluasi)

B. KEBIJAKAN SELEKSI

Secara umum seleksi diartikan sebagai tindakan, cara, atau proses memilih. Dalam hubungannya dengan pengembangan koleksi seleksi merupakan kegiatan yang menyangkut perumusan kebijakan dalam memilih dan menentukan bahan pustaka mana yang akan diadakan serta metode-metode apa yang akan diterapkan kepada koleksi tersebut. Kebijakan seleksi sendiri harus mampu dalam mengkomunikasikan tujuan dan kebijakan pengembangan koleksi itu sendiri.

1.      Prinsip Seleksi

Persoalan yang sangat penting dalam seleksi ialah menetapkan dasar pemikiran atau strating point umtuk kegiatan ini. Perpustakaan akan menetukan pilihan apakah mengutamakan kualitas( nilai intrinsik bahan pustaka ) ataukah mengutamakan penggunaan ( bahan pustaka yamg akan digunakan atas permintaan pemakai ). Dalam hal ini peran seorang pustakawan adalah sangat besar, karena menyeleksi suatu bahan pustaka adalah tidak gampang, butuh keahlian dan pengetahuan yang tidak sedikit.

1.      Pandangan Tradisional

Prinsip ini mengutamakan nilai intrinsik untuk bahan pustaka yang akan dikoleksi perpustakaan. Titik tolak yang mendasari prinsip ini ialah pemahaman bahwa perpustakaan merupakan tempat untuk melestarikan warisan budaya dan sarana untuk mencerdaskan masyarakat. Apabila dinilai tidak bermutu, bahan pustaka tidak akan dipil untuk diadakan.

2.      Pandangan Liberal

Prioritas pemilihan didasarkan atas popularitas. Artinya, kualitas tetap diperhatikan, tetapin dengan lebih mengutamakan pemilihan karena disukai dan banyak dibaca atau mengikuti selera masyarakat pemakai.

3.      Pandangan Pluralistik

Prinsip yang dianut pandangan ini berusaha mencari keselarasan dan keseimbangan diantara kedua pandangan tersebut, baik tradisional maupun liberal.

 

2.      Kriteria Seleksi

Apaun kriteria yang ditetapkan oleh suatu perpustakaan, criteria seleksi tersebut harus ditungkan secara jelas dalam kebijakan pengembangan koleksi. Hal ini tentu saja memudahkan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul. Misalnya, mengapa bahan pustaka tertentu harus dipilih? Kriteria itu dapat menjadi pegangan dalam mempertimbangkan nilai intrinsic bahan pustaka.

David Spiller (1982 : 83-90) mengungkapkan secara umum kriteria-kriteria yang diterapkan dalam seleksi, yaitu :

1.      Tujuan, Cakupan, dan kelompok Pembaca

Bahan pustaka yang akan dipilih hrus mempertimbangkan secara sungguh-sungguh kesesuaiannya dengan tujuan, cakupan, dan kelompok pembaca.

2.      Tingkatan Koleksi

Tingkatan koleksi menjadi salah satu faktor utama untuk menentukan koleksi tertentu. Tingkatan mana yang diprioritaskan dapat berbeda antara satu perpustakaan dengan perpustakaan lain. Dasar perbedaan ini dapat ditimbulkan oleh adanya tipe perpustakaan yang berbeda-beda.

 

 

 

3.      Otoritas dan Kredibilitas Pengarang

Otoritas pengarang harus ditentukan secermat-cermatnya. Jika pengarang bukan pakar yang dikenal dalam bidangnya, kualifikasinya dalam penulisan buku harus diteliti dengan baik.

4.      Harga

Harga publikasi dapat diketahui melalui bibliografi. Namun, untuk mengetahui nilai intrinsic sebuah buku hanya dapat dinilai lewat buku itu sendiri. Selektor perlu mempertimbangkan secara bertabggung jawab ketika memutuskan pemilihan bahan pustaka di atas harga rata-rata. Apakah sangat dibutuhkan dan akan banyak digunakan atau tidak.

5.      Kemutakhiran

Data tentang tanggal penerbitan bahan pustaka tetap perlu direvikasi. Penerbitan bahan pustaka tertentu mungkin saja diterbitkan beberapa tahun setelah penelitian sehingga nilai intrinsik dan kemutakhirannya berkurang.

6.      Penyajian Fisik Buku

Penampilan fisik buku-buku dapat mempengaruhi keputusan seleksi. Bahan pustaka seharusnyalah bersih, rapi, dan dapat dibaca.

 

 

7.      Struktur dan Metode Penyajian

Pustakawan dengan latar belakangsubjek tertentu biasanya dapat memperoleh gam,baran tentang struktur buku melalui daftar isi.

8.      Indeks dan Bibliografi

Keberadaan bibliografi dan indeks sebuah buku dapat diketahui secara jelas lewat entri dalam bibliografi nasional. Meskipun demikian, kualitas bibliografi dan indeks akan dapat ditentukan secara tepat apabila langsung diperiksa dan dilihat pada buku itu sendiri. Catatan kaki dan daftar rujukan bias memperkuat klaim keaslian penelitian.

C. KELOMPOK PEMBACA

Ketika informasi dapat diakses oleh masyarakat diseluruh dunia, maka informasi tersebut seakan-akan menjadi kebutuhan yang berkembang dengan pesatnya. Apalagi dengan adanya internet membuat pemenuhan terhadap informasi tersebut menjadi sangat mudah dan cepat. Kemudahan mengakses berbagai informasi ini banyak dimanfaatkan dan banyak pula disalah gunakan oleh para user. Oleh karena itu kebijakan seleksi sangat diperlukan dalam pemenuhan informasi kepada masyarakat.

Pustakawan harus melihat dari kelompok pembaca yang dilayani dan yang memanfaatkan sumber informasi tersebut. Pustakawan sebagai selektor harus memiliki kriteria tertentu terhadap bahan koleksi yang akan mereka lanyangkan kepada masyarakat pengguna informasi tersebut yang dapat ditinjau dari berbagai sudut, antara lain :

1.      Usia Kelompok Pembaca

Selektor harus memiliki pengetahuan dalam menentukan bahan pustaka mana yang boleh dan tidak boleh dilayangkan kepada pembaca dengan memprediksi kesesuaian bahan pustaka tersebut dengan usia pembaca.

2.      Pendidikan Kelompok Pembaca

Seorang selektor harus memprediksi kesesuaian suatu bahan pustaka dengan pendidikan kelompok pembaca, karena beberapa kalangan pembaca tentu memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Tentu sangat tidak mungkin seseorang yang memilikki latar belakang pendidikan social disuguhi bahan pustaka yang berhubungan dengan bidang kedokteran.

3.      Keterbatasan Fisik Kelompok Pembaca

Selektor harus mampu menyeleksi bahan-bahan pustaka yang dibutuhkan oleh kelompok pembaca yang memiliki keterbatasan fisik. Misalnya dengan menyediakan bahan-bahan pustaka bagi saudara-saudara kita yang Tuna Netra.

4.      Gender Kelompok Pembaca

Seorang selektor harus mampu menyeleksi bahan-bahan pustaka dengan mellihat sudut pandang Gender kelompok pembaca tersebut, agar tecapai penyampaian informasi yang tepat sasaran.

KESIMPULAN

Perpustakaan harus mampu mempertimbangkan dan memutuskan bahan-bahan pustaka apa saja yang boleh dan tidak boleh dilayangkan kepada masyarakat. Kebijakan seleksi ini sudah jelas dapat menunjang kegiatan pengembangan koleksi. Dimana pengembangan koleksi dimaksudkan untuk membina bahan pustaka sesuai dengan kondisi perpustakaan dan masyarakat yang akan dilayani.

Kebutuhan informasi masyarakat yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya, dan sudut pandang kelompok pembaca yang berbeda-beda pula mengharuskan perpustakaan menyeleksi bahan pustaka yang akan dilayangkan. Melihat hal ini dapat dipastikan betapa seorang selektor memiliki peranan yang sangat penting di dalam pengembangan koleksi, dan tentu saja diperlukan pengetahuan yang sangat luas mengingat begitu beratnya tugas seorang selektor.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ade Kohar, 2003. Teknik Penyusunan Kebijakan Pengembangan Koleksi Perpustakaan:Suatu Implementasi Studi Retrospektif. Jakarta

 

Ade Kohar. 2005. Perpustakaan Perguruan Tinggi : Buku Pedoman. ed. ke 3. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional RI. Jakarta.

 

Dickstein, Ruth dan Hovendick, Kelly Barrick. 2002. University of Arizona Women’s Studies Collection Evaluation. http://oratt.edu/~johnso2/UArizcollectioneval.html (diambil tgl. 29 September 2006)

 

Noerhayati S. 1987. Pengelolaan Perpustakaan. Bandung : PT Alumni

Septyantono, Tri. 2003. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta : IAIN Sunan Kalijaga

Sulistyo Basuki. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

 

 

 

 

 

 

 

MENULIS FEATURE SEBUAH KREASI SASTRA (bagian 2)

MENULIS FEATURE SEBUAH KREASI SASTRA

Bagian 2

 

STRUKTUR PENULISAN FEATURE

Berikut adalah bagian-bagian serta beberapa hal yang perlu diketahui sebelum menulis feature

1.                  Judul.

Judul sebuah feature memiliki peran cukup besar dalam menarik minat pembaca membaca feature tersebut. Oleh karena itu judul hendaknya memiliki beberapa sifat sebagai berikut:

1.                  Atraktif (menarik perhatian) namun tidak bombastis

2.                  Memuat inti terpenting dari tulisan

3.                  Komunikatif, mudah dipahami, jelas, ringkas, padat dan sederhana

4.                  Logis, dalam artian bersifat pasti dan dapat dipercaya.

2. Lead

Mari kita tinggalkan difinisi apa itu feature dan kita langsung ke teknik penulisannya. Ini yang lebih penting. Kita tahu bahwa berita umumnya ditulis dengan teknik piramida terbalik dan harus memenuhi unsur 5 W + 1 H (what, who, why, when, where: apa, siapa, mengapa, kapan, di mana, bagaimana).

Untuk penerbitan berupa koran, susunan piramida terbalik ini penting karena jika terjadi pemotongan karena tak ada tempat, pemotongan langsung dilakukan dari bagian belakang. Ini berarti lead berita itu pastilah yang terpenting dari isi berita itu sendiri. Ini harus memikat, tanpa itu berita tak menarik perhatian. Feature hampir sama dalam masalah lead, artinya harus memikat.

Tetapi feature tidak tunduk pada ketentuan piramida terbalik. Feature ditulis dengan teknik lead, tubuh dan ending (penutup). Penutup sebuah feature hampir sama pentingnya dengan lead. Mungkin di sana ada kesimpulan atau ada celetukan yang menggoda, atau ada sindiran dan sebagainya. Karena itu kalau memotong tulisan feature, tak bisa main gampang mengambil paling akhir.

Semua bagian dalam fetaure itu penting. Namun yang terpenting memang lead, karena di sanalah pembuka jalan. Gagal dalam menuliskan lead pembaca bisa tidak meneruskan membaca. Gagal berarti kehilangan daya pikat. Di sini penulis feature harus pandai betul menggunakan kalimatnya. Bahasa harus rapi dan terjaga bagus dan cara memancing itu haruslah jitu.Tak ada teori yang baku bagaimana menulis lead sebuah feature. Semuanya berdasarkan pengalaman dan juga perkembangan. Namun, sebagai garis besar beberapa contoh lead saya sebutkan di sini:

Lead Ringkasan:

Lead ini hampir sama saja dengan berita biasa, yang ditulis adalah inti ceritanya. Banyak penulis feature menulis lead gaya ini karena gampang.

Misal:

Walaupun dengan tangan buntung, Pak Saleh sama sekali tak merasa
rendah diri bekerja sebagai tukang parkir di depan kampus itu.

Pembaca sudah bisa menebak, yang mau ditulis adalah tukang parkir bernama Pak Saleh yang cacat. Yang berminat bisa meneruskan membaca, yang tak berminat — apalagi sebelumnya tak ada berita tentang Pak Saleh itu — bisa melewatkan begitu saja.

Lead Bercerita:

Lead ini menciptakan suatu suasana dan membenamkan pembaca seperti ikut jadi tokohnya.

Misal:

Anggota Reserse itu melihat dengan tajam ke arah senjata lelaki di
depannya. Secepat kilat ia meloncat ke samping dan mendepak senjata
lawannya sambil menembakkan pistolnya. Dor… Preman itu tergeletak
sementara banyak orang tercengang ketakutan menyaksi kan adegan yang
sekejap itu …..

Pembaca masih bertanya apa yang terjadi. Padahal feature itu bercerita tentang operasi pembersihan preman-preman yang selama ini mengacau lingkungan pemukiman itu.

Lead Deskriptif:

Lead ini menceritakan gambaran dalam pembaca tentang suatu tokoh atau suatu kejadian. Biasanya disenangi oleh penulis yang hendak menulis profil seseorang.

Misal:

Keringat mengucur di muka lelaki tua yang tangannya buntung itu,
sementara pemilik kendaraan merelakan uang kembalinya yang hanya dua
ratus rupiah. Namun lelaki itu tetap saja merogoh saku dengan tangan
kirinya yang normal, mengambil dua koin ratusan. Pak Saleh, tukang
parkir yang bertangan sebelah itu, tak ingin dikasihani …..

Pembaca mudah terhanyut oleh lead begini, apalagi penulisnya ingin membuat kisah Pak Saleh yang penuh warna.

Lead Kutipan:

Lead ini bisa menarik jika kutipannya harus memusatkan diri pada inti cerita berikutnya. Dan tidak klise.

Misal:

“Saya lebih baik tetap tinggal di penjara, dibandingkan bebas dengan
pengampunan. Apanya yang diampuni, saya kan tak pernah bersalah,” kata
Sri Bintang Pamungkas ketika akan dibebaskan dari LP Cipinang. Walau
begitu, Sri Bintang toh mau juga keluar penjara dijemput
anak-istri.. .. dan seterusnya.

Pembaca kemudian digiring pada kasus pembebasan tapol sebagai tekad pemerintahan yang baru. Hati-hati dengan kutipan klise.

Contoh:

“Pembangunan itu perlu untuk mensejahterakan rakyat dan hasil-hasilnya
sudah kita lihat bersama,” kata Menteri X di depan masa yang melimpah
ruah.

Pembaca sulit terpikat padahal bisa jadi yang mau ditulis adalah
sebuah feature tentang keterlibatan masyarakat dalam pembangunan yang
agak unik.

 

 

 

Lead Pertanyaan:

Lead ini menantang rasa ingin tahu pembaca, asal dipergunakan dengan tepat dan pertanyaannya wajar saja. Lead begini sebaiknya satu alinea dan satu kalimat, dan kalimat berikutnya sudah alinea baru.

Misal:

Untuk apa mahasiswa dilatih jurnalistik? Memang ada yang sinis dengan
Pekan Jurnalistik Mahasiswa yang diadakan ini. Soalnya, penerbitan
pers di kampus ini tak bisa lagi mengikuti kaidah-kaidah jurnalistik
karena terlalu banyaknya batasan-batasan dan larangan ….

Pembaca kemudian disuguhi feature soal bagaimana kehidupan pers kampus di sebuah perguruan tinggi.

Lead Menuding:

Lead ini berusaha berkomunikasi langsung dengan pembaca dan ciri-cirinya adalah ada kata “Anda” atau “Saudara”. Pembaca sengaja dibawa untuk menjadi bagian cerita, walau pembaca itu tidak terlibat pada persoalan.

Misal:

Saudara mengira sudah menjadi orang yang baik di negeri ini. Padahal,
belum tentu. Pernahkah Saudara menggunakan jembatan penyeberangan
kalau melintas di jalan? Pernahkah Saudara naik ke bus kota dari pintu
depan dan tertib keluar dari pintu belakang? Mungkin tak pernah sama
sekali. Saudara tergolong punya disiplin yang, maaf, sangat kurang.

Pembaca masih penasaran feature ini mau bicara apa. Ternyata yang disoroti adalah kampanye disiplin nasional.

Lead Penggoda:

Lead ini hanya sekadar menggoda dengan sedikit bergurau. Tujuannya untuk menggaet pembaca agar secara tidak sadar dijebak ke baris berikutnya. Lead ini juga tidak memberi tahu, cerita apa yang disuguhkan karena masih teka-teki.

Misal:

Kampanye menulis surat di masa pemerintahan Presiden Soeharto ternyata
berhasil baik dan membekas sampai saat ini. Bukan saja anak-anak
sekolah yang gemar menulis surat, tetapi juga para pejabat tinggi di
masa itu keranjingan menulis surat.

Nah, sampai di sini pembaca masih sulit menebak, tulisan apa ini?

Alinea berikutnya:

Kini, ada surat yang membekas dan menimbulkan masalah bagi rakyat
kecil. Yakni, surat sakti Menteri PU kepada Gubernur DKI agar putra
Soeharto, Sigit, diajak berkongsi untuk menangani PDAM DKI Jakarta.
Ternyata bukannya menyetor uang tetapi mengambil uang setoran PDAM
dalam jumlah milyaran…. dan seterusnya.

Pembaca mulai menebak-nebak, ini pasti feature yang bercerita tentang kasus PDAM DKI Jaya. Tetapi, apa isi feature itu, apakah kasus kolusinya, kesulitan air atau tarifnya, masih teka-teki dan itu dijabarkan dalam alinea berikutnya.

Lead Nyentrik:

Lead ini nyentrik, ekstrim, bisa berbentuk puisi atau sepotong kata-kata pendek. Hanya baik jika seluruh cerita bergaya lincah dan hidup cara penyajiannya.

Misal:
Reformasi total.
Mundur.
Sidang Istimewa.
Tegakkan hukum.
Hapus KKN.

Teriakan itu bersahut-sahutan dari sejumlah mahasiswa di halaman
gedung DPR/MPR untuk menyampaikan aspirasi rakyat …. dst….

Pembaca digiring ke persoalan bagaimana tuntutan reformasi yang disampaikan mahasiswa.

Lead Gabungan:

Ini adalah gabungan dari beberapa jenis lead tadi.

Misal:

“Saya tak pernah mempersoalkan kedudukan. Kalau memang mau diganti,
ya, diganti,” kata Menteri Sosial sambil berjalan menuju mobilnya
serta memperbaiki kerudungnya. Ia tetap tersenyum cerah sambil menolak
menjawab pertanyaan wartawan. Ketika hendak menutup pintu mobilnya,
Menteri berkata pendek: “Bapak saya sehat kok, keluarga kami semua
sehat….”

Ini gabungan lead kutipan dan deskriptif. Dan lead apa pun bisa digabung-gabungkan.

3.                  Batang Tubuh

Yang pertama diperhatikan adalah fokus cerita jangan sampai menyimpang. Buatlah kronologis, berurutan dengan kalimat sederhana dan pendek-pendek.

Deskripsi, baik untuk suasana maupun orang (profil), mutlak untuk pemanis sebuah feature. Kalau dalam berita, cukup begini: Pak Saleh mendapat penghargaan sebagai tukang parkir teladan. Paling hanya dijelaskan sedikit soal Pak Saleh. Tapi dalam feature, saudara dituntut lebih banyak. Profil lengkap Pak Saleh diperlukan, agar orang
bisa membayangkan.

Tapi tak bisa dijejal begini:

Pak Saleh, tukang parkir di depan kampus itu, yang tangan kanannya buntung, umurnya 50 tahun, anaknya 9, rumahnya di Depok, dapat penghargaan.
Data harus dipecah-pecah. Alenia pertama cukup ditulis:
Pak saleh, 50 tahun, dapat penghargaan. Lalu jelaskan dari siapa penghargaan itu dan apa sebabnya. Pak Saleh yang tangannya buntung itu merasakan cukup haru, ketika Wali Kota….

Di bagian lain disebut: “Saya tidak mengharapkan, ” kata lelaki dengan 9 anak yang tinggal di Depok ini. Dan seterusnya.

Anekdot perlu untuk sebuah feature. Tapi jangan mengada-ada dan dibikin-bikin. Dan kutipan ucapan juga penting, agar pembaca tidak jenuh dengan suatu reportase.

Detil penting tetapi harus tahu kapan terinci betul dan kapan tidak.

Preman itu tertembak dalam jarak 5 meter lebih 35 centi 6 melimeter… , apa pentingnya itu? Sebut saja sekitar 5 meter. Tapi, gol kemenangan Persebaya dicetak pada menit ke 43, ini penting. Tak bisa disebut sekitar menit ke 45, karena menit 45 sudah setengah main. Dalam olahraga sepakbola, menit ke 43 beda jauh dengan menit ke 30. Bahkan dalam atletik, waktu 10.51 detik banyak bedanya dengan 10.24 detik.Ini sudah menyangkut bahasa jurnalistik, nanti ada pembahasan khusus soal ini.

3.  Ending

Jika batang tubuh sudah selesai, tinggallah membuat penutup. Dalam berita tidak ada penutup. Untuk feature setidak-tidaknya ada empat jenis penutup.

Penutup Ringkasan:

Sifatnya merangkum kembali cerita-cerita yang lepas untuk mengacu kembali ke intro awal atau lead.

Penutup Penyengat:

Membuat pembaca kaget karena sama sekali tak diduga-duga. Seperti kisah detektif saja. Misalnya, menulis feature tentang bandit yang berhasil ditangkap setelah melawan. Kisah sudah panjang dan seru, pujian untuk petugas sudah datang, dan bandit itu pun sudah menghuni sel. Tapi, ending feature adalah: Esok harinya, bandit itu telah kabur kembali. Ending ini disimpan sejak tadi.

Penutup Klimak:

Ini penutup biasa karena cerita yang disusun tadi sudah kronologis. Jadi penyelesaiannya jelas. Di masa lalu, ada kegemaran menulis ending yang singkat dengan satu kata saja: Semoga. Sekarang hal seperti ini menjadi tertawaan. Ini sebuah bukti bahwa setiap masa ada kekhasannya.

Penutup tanpa Penyelesaian:

Cerita berakhir dengan mengambang. Ini bisa taktik penulis agar pembaca merenung dan mengambil kesimpulan sendiri, tetapi bisa pula masalah yang ditulis memang menggantung, masih ada kelanjutan, tapi tak pasti kapan.

 

MENULIS FEATURE SEBUAH KREASI SASTRA

MENULIS FEATURE SEBUAH KREASI SASTRA

Bagian 1

 

 

Apa sih definisi feature? Menurut Asep Syamsul M. Romli dalam bukunya Jurnalistik Praktis, dikatakan bahwa para ahli jurnalistik belum ada kesepakatan mengenai batasan feature. Masing-masing ahli memberikan rumusannya sendiri tentang feature. Jadi, tidak ada rumusan tunggal tentang pengertian feature. Yang jelas, feature adalah sebuah tulisan jurnalistik juga, namun tidak selalu harus mengikuti rumus klasik 5W + 1 H dan bisa dibedakan dengan news, artikel (opini), kolom, dan analisis berita.

Jadi  feature merupakan  bentuk tulisan yang dalam dan enak untuk disimak. Kisahnya deskriptif, memaparkan peristiwa secara objektif, sehingga bisa membangkitkan bayangan-bayangan kejadian yang sesungguhnya kepada pembaca. Redaktur Senior Majalah Gatra, Yudhistira ANM Massardi, mengatakan, Feature bukan karya fiksi, tapi karya jusnalistik. Karenanya, Featur harus memiliki satu makna, satu arti, tidak seperti karya sastra yang banyak arti tergantung si pembacanya. Feature juga disebut karya “sastra jurnalistik” karena sangat bertumpu pada kekuatan deskripsi yakni mampu mengambarkan situasi dan suasana secara rinci, hidup, berkeringat (basah), beraroma, membuka pintu akal, membetot perhatian, meremas perasaan, sehingga imajinasi pembaca terbawa ke tempat peristiwa.

Jadi, Jika dalam penulisan berita yang diutamakan ialah pengaturan fakta-fakta, maka dalam penulisan feature kita dapat memakai teknik ‘’mengisahkan sebuah cerita’’. Itulah kunci perbedaan antara berita ‘’keras’’ (spot news) dan feature. Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah. Penulis melukis gambar dengan kata-kata: ia menghidupkan imajinasi pembaca; ia menarik pembaca agar masuk ke dalam cerita itu dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama. Penulis feature untuk sebagian besar tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan itu.

Asep Syamsul M. Romli menjelaskan bahwa dari sejumlah pengertian feature yang ada, dapat ditemukan beberapa ciri khas tulisan feature, antara lain:

1.                  Mengandung segi human interest

Tulisan feature memberikan penekanan pada fakta-fakta yang dianggap mampu menggugah emosi—menghibur, memunculkan empati dan keharuan. Dengan kata lain, sebuah feature juga harus mengandung segi human interest atau human touch—menyentuh rasa manusiawi. Karenanya, feature termasuk kategori soft news (berita ringan) yang pemahamannya lebih menggunakan emosi. Berbeda dengan hard news (berita keras), yang isinya mengacu kepada dan pemahamannya lebih banyak menggunakan pemikiran.

2.                  Mengandung unsur sastra

Satu hal penting dalam sebuah feature adalah ia harus mengandung unsur sastra. Feature ditulis dengan cara atau gaya menulis fiksi. Karenanya, tulisan feature mirip dengan sebuah cerpen atau novel—bacaan ringan dan menyenangkan—namun tetap informatif dan faktual. Karenanya pula, seorang penulis feature pada prinsipnya adalah seorang yang sedang bercerita.

Jadi, feature adalah jenis berita yang sifatnya ringan dan menghibur. Ia menjadi bagian dari pemenuhan fungsi menghibur (entertainment) sebuah surat kabar.

 

UNRUR-UNSUR PENULISAN FEATURE

Unsur penulisan feature menurut Williamson ada 5 yaitu:

1. Kreatifitas (creativity).

Laporan feature harus mengkreasikan sudut pandang penulis berdasarkan riset terhadap fakta-fakta yang telah ditelusuri.

2. Subjektivitas (subjectivity).

Sangat mungkin menggunakan sudut pandang orang pertama, atau “saya” dengan emosi campur nalar, sebagai cara mendapatkan fakta-fakta.

3. Informatif (informativeness).

 Materi laporan tentang hal yang ringan, namun berguna bagi masyarakat. Seperti situasi saat peristiwa terjadi dan tidak diliput media lain.

4. Menghibur (entertainment).

 Laporan harus berwarna-warni terhadap berita-berita rutin seperti pembunuhan, selingkuh, bencana alam dll, sehingga pembaca larut dalam kesedihan atau malah tertawa terbahak-bahak.

5. Tidak Dibatasi Waktu (unperishable).

Bahwa feature tidak lapuk dimakan deadline, karena topiknya dibahas secara mendalam.

 

 

 

JENIS-JENIS FEATURE

Feature kepribadian (Profil)

Profil mengungkap manusia yang menarik. Misalnya, tentang seseorang yang secara dra-matik, melalui berbagai liku-liku, kemudian mencapai karir yang istimewa dan sukses atau menjadi terkenal karena kepribadian mereka yang penuh warna.

Agar efektif, profil seperti ini harus lebih dari sekadar daftar pencapaian dan tanggal-tang-gal penting dari kehidupan si individu. Profil harus bisa mengungkap karakter manusia itu. Untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, penulis feature tentang pribadi seperti ini seringkali harus mengamati subyek mereka ketika bekerja; mengunjungi rumah mereka dan mewawancara teman-teman, kerabat dan kawan bisnis mereka.

Profil yang komplit sebaiknya disertai kutipan-kutipan si subyek yang bisa meng-gambarkan dengan pas karakternya. Profil yang baik juga semestinya bisa memberikan kesan kepada pembacanya bahwa mereka telah bertemu dan berbicara dengan sang tokoh.

Banyak sumber yang diwawancara mungkin secara terbuka berani mengejutkan Anda dengan mengungkap rahasia pribadi atau anekdot tentang si subyek. Tapi, banyak sumber lebih suka meminta agar identitasnya dirahasiakan. Informasi sumber-sumber itu penting untuk memberikan balans dalam penggambaran si tokoh.

Feature sejarah

Feature sejarah memperingati tanggal-tanggal dari peristiwa penting, seperti proklamasi kemerdekaan, pemboman Hiroshima atau pembunuhan jenderal-jenderal revolusi. Koran juga sering menerbitkan feature peringatan 100 tahun lahir atau meninggalnya seorang tokoh.

Kisah feature sejarah juga bisa terikat pada peristiwa-peristiawa mutakhir yang mem-bangkitkan minat dalam topik mereka. Jika musibah gunung api terjadi, koran sering memuat peristiwa serupa di masa lalu.

Feature sejarah juga sering melukiskan landmark (monumen/gedung) terkenal, pionir, fi-losof, fasilitas hiburan dan medis, perubahan dalam komposisi rasial, pola perumahan, makanan, industri, agama dan kemakmuran.

Setiap kota atau sekolah memiliki peristiwa menarik dalam sejarahnya. Seorang penulis feature yang bagus akan mengkaji lebih tentang peristiwa-peristiwa itu, mungkin dengan dokumen historis atau dengan mewawancara orang-orang yang terlibat dalam peristiwa-peristiwa bersejarah.

Fature petualangan

Feature petualangan melukiskan pengalaman-pengalaman istimewa dan mencengangkan — mungkin pengalaman seseorang yang selamat dari sebuah kecelakaan pesawat ter-bang, mendaki gunung, berlayar keliling dunia, pengalaman ikut dalam peperangan.

Dalam feature jenis ini, kutipan dan deskripsi sangat penting. Setelah bencana, misalnya, penulis feature sering menggunakan saksi hidup untuk merekontruksikan peristiwa itu sendiri. Banyak penulis feature jenis ini memulai tulisannya dengan aksi — momen yang paling menarik dan paling dramatis.

 

 

Feature musiman

Reporter seringkali ditugasi untuk menulis feature tentang musim dan liburan, tentang Ha-ri Raya, Natal, dan musim kemarau. Kisah seperti itu sangat sulit ditulis, karena agar tetap menarik, reporter harus menemukan angle atau sudut pandang yang segar.

Contoh yang bisa dipakai adalah bagaimana seorang penulis menyamar menjadi Sin-terklas di Hari Natal untuk merekam respon atau tingkah laku anak-anak di seputar hara raya itu.

Feature Interpretatif

Feature dari jenis ini mencoba memberikan deskripsi dan penjelasan lebih detil terhadap topik-topik yang telah diberitakan. Feature interpretatif bisa menyajikan sebuah or-ganisasi, aktifitas, trend atau gagasan tertentu. Misalnya, setelah kisah berita meng-gambarkan aksi terorisme, feature interpretatif mungkin mengkaji identitas, taktik dan tujuan terotisme.

Berita memberikan gagasan bagi ribuan feature semacam ini. Setelah perampokan bank, feature interpretatif bisa saja menyajikan tentang latihan yang diberikan bank kepada pegawai untuk menangkal perampokan. Atau yang mengungkap lebih jauh tipikal pe-rampok bank, termasuk peluang perampok bisa ditangkap dan dihukum.

Feature kiat (how-to-do-it feature)

Feature ini berkisah kepada pembacanya bagaimana melakukan sesuatu hal: bagaimana membeli rumah, menemukan pekerjaan, bertanam di kebun, mereparasi mobil atau mem-pererat tali perkawinan.

Kisah seperti ini seringkali lebih pendek ketimbang jenis feature lain dan lebih sulit dalam penulisannya. Reporter yang belum berpengalaman akan cenderung menceramahi atau mendikte pembaca — memberikan opini mereka sendiri — bukannya mewawancara sum-ber ahli dan memberikan advis detil dan faktual.