Arsip Tag: kode etik profesi

KODE ETIK PROFESI SEBAGAI ACUAN BERPRILAKU PROFESIONAl

KODE ETIK  PROFESI SEBAGAI ACUAN BERPRILAKU PROFESIONAl 

Encang saepudin

  1. Batasan Etika

Dalam pergaulan hidup bermasyarakat diperlukan suatu sistem atau pedoman yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bargaul atau berhubungan antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Sistem pengaturan pergaulan tersebut  dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, adat, dan lain-lain.

Dengan adanya pedoman pergaulan ini  maka setiap anggota masyarakat dapat menjaga kepentingan masing-masin. Selain itu, mereka akan lebih senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya dan kepentingan aoarng lain. Dalam menjalankan aktivitasnya diharapkan akan selalu sesuai dengan  adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya etika di masyarakat kita.

Sebuah pertanyaan muncul, apakah etika?

Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimilki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.

Menurut Martin (1993), etika didefinisikan sebagai “the discpline which can act asthe performance index or reference for our control system”. Dengan demikian, etika akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya. Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan dengan seni pergaulan manusia, etika ini kemudian wujudkan  dalam bentuk aturan (code) tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada. Atuan-atuan ini akan  difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik. Dengan demikian etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “self control”, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepenringan kelompok sosial (profesi) itu sendiri.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia  etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, ilmu tentang hak dan kewajiban moral (ahklak). Hal ini sejalan dengan pendapat  yang dikemukakan oleh Franz Von Magnis (1976) “etika adalah ilmu tentang kewajiban-kewajiban manusia serta tentang yang baik dan yang buruk atau disebut bidang moral.” Berikut pendapat beberapa ahli mengenai batasan etika:

  1. Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
  2. Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.

Pada dasarnya, sifat dasar dari etika adalah bersifat kritis dan  bertugas untuk mempersoalkan norma-norma yang dianggap berlaku. Dengan demikian etika dapat mengantar orang kepada kemampuan untuk bersikap kritis dan rasional untuk membentuk pendapatnya sendiri. Obyek dari etika adalah pernyataan moral tentang tindakan manusia dan pernyataan tentang manusia sendiri atau tentang unsur pribadi manusia.

  1. Etika dan Etiket

Etika dan etiket nampaknya sama, namun sebenarnya terdapat perbedaan yang nyata. Etiket berasal dari kata “etiquette” (bahasa Perancis) yang berarti label atau tanda pengenal seperti pada etiket buku atau label pada barang. Kemudian pengertian ini berkembang menjadi semacam persetujuan bersama untuk menilai sopan tidaknya seseorang dalam (satu jenis) pergaulan.

Dengan pengertian ini maka dalam pergaulan hidup dapat diketahui bahwa

1. Etiket itu merupakan sikap yang terkandung nilai sopan santun dalam pergaulan;

2. Etiket itu semacam pakaian terbatas yang hanya dipakai pada keadaan dan situasi tertentu.

Oleh karena itu, etiket banyak jenisnya seperti etiket bertamu, etiket menerima tamu, etiket menelpon, dan lainnya. Disamping itu mengingat etiket itu mengandung sopan santun dan sebagai salah satu ajaran, maka etiket menjadi bagian dari ajaran etika terutama etika sosial.

Etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya. Nilai adalah standar/ukuran yang telah disepakati masyarakat tertentu tentang suatu perilaku. Norma memberikan pedoman bagaimana seharusnya seseorang bertindak secara baik dan tepat sekaligus menjadi dasar penilaian baik buruknya suatu tindakan apakah sesuai etika yang berlaku atau tidak. Dalam perkembangannnya, norma dapat dibagi menjadi norma khusus dan norma umum.

Norma khusus adalah aturan yang berlaku dalam bidang maupun aktivitas tertentu misalnya aturan bermain, aturan kunjungan pada pasien di rumah sakit, aturan mengikuti kuliah, dan lainnya. Norma umum lebih bersifat umum dan universal yang dapat dibagi menjadi; norma sopan santun/etiket, norma hukum, dan norma moral.

  1. 1.      Norma sopan santun, yakni norma yang mengatur pola perilaku dan sikap lahiriah seperti makan, minum, tata cara bertamu, menerima tamu, member sambutan, dan lainnya.
  2. 2.      Norma hukum, yakni norma yang dituntut masyarakat secara tegas demi keselamatan, ketenteraman, dan kesejahteraan masyarakat. Norma hukum ini ada yang tertulis seperti yang tertulis pada KUHP, tetapi ada juga yang tidak tertulis seperti hukum sosial dalam masyarakat. Dalam hal ini apabila seseorang tidak mengikuti aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat, maka masyarakatlah yang akan memberikan sanksi maupun hukuman. Pelanggaran norma hukum dalam masyarakat itu antara lain tidak pernah ta’ziyah, tidak pernah kerja bakti, tidak pernah datang apabila diundang kenduri, dan lainnya.
  3. 3.      Norma moral, yakni aturan yang berkaitan dengan sikap dan perilaku manusia sebagai manusia biasa tidak ada hubungannya dengan jabatan dan karir. Dalam hal ini dapat ditentukan baik buruknya seseorang dalam kapasitasnya sebagai manusia. Penilaian moral ini ditujukan pada bagaimana seorang karier menjalankan tugasnya dengan baik sebagai manusia. Dalam hal ini ditekankan pada sikap mereka dalam menghadapi tugas, dalam menghargai kehidupan manusia, dan dalam menghadapi dirinya sebagai manusia ketika menjalankan profesinya. Etika akan menuntun seseorang untuk bertindak dengan tepat sesuai norma yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat maupun profesi tertentu. Dengan demikian etika masyarakat atau etika profesi satu dengan yang lain berbeda.

Etika akan menuntun seseorang untuk bertindak dengan tepat sesuai norma yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat maupun profesi tertentu. Dengan demikian etika masyarakat atau etika profesi satu dengan yang lain berbeda.

B. Berbagai Jenis Etika

Pada dasarnya, etika dapat dibagi menjadi etika umum dan etika khusus:

1. Etika Umum

Etika umum ialah etika yang membahas tentang kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia itu bertindak secara etis. Etika inilah yang dijadikan dasar dan pegangan manusia untuk bertindak dan digunakan sebagai tolok ukur penilaian baik buruknya suatu tindakan.

2. Etika Khusus

Etika khusus ialah penerapan moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus misalnya olah raga, bisnis, atau profesi tertentu. Dari sinilah nanti akan lahir etika bisnis dan etika profesi (wartawan, dokter, hakim, pustakawan, dan lainnya). Kemudian etika khusus ini dibagi lagi menjadi etika individual dan etika sosial.

a. Etika Individual

Etika individual ini adalah etika yang berkaitan dengan kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendirin dan Tuhan-Nya, misalnya:

1). Memelihara kesehatan dan kesucian lahiriah dan batiniah;

2). Memelihara kerapian diri, kamar, tempat tingggal, dan lainnya;

3). Berlaku tenang;

4). Meningkatkan ilmu pengetahuan;

5). Membina kedisiplinan , dan lainnya.

b. Etika Sosial

Etika sosial adalah etika yang membahas tentang kewajiban, sikap, dan pola perilaku manusia sebagai anggota masyarakat pada umumnya. Dalam hal ini menyangkut hubungan manusia dengan manusia, baik secara individu maupun dalam kelembagaan (organisasi, profesi, keluarga, negara, dan lainnya).

PENGERTIAN PROFESI

Profesi

Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang yang bekerja tetap sesuai. Tetapi dengan keahlian saja yang diperoleh dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup disebut profesi. Tetapi perlu penguasaan teori sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan, dan hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek.

Kita tidak hanya mengenal istilah profesi untuk bidang-bidang pekerjaan seperti kedokteran, guru, militer, pengacara, dan semacamnya, tetapi meluas sampai mencakup pula bidang seperti manajer, wartawan, pelukis, penyanyi, artis, sekretaris dan sebagainya. Sejalan dengan itu, menurut De George, timbul kebingungan mengenai pengertian profesi itu sendiri, sehubungan dengan istilah profesi dan profesional. Kebingungan ini timbul karena banyak orang yang profesional tidak atau belum tentu termasuk dalam pengertian profesi. Berikut pengertian profesi dan profesional menurut De George;

  1. Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.
  2. Profesional adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Atau seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut keahlian, sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi, untuk senang-senang, atau untuk mengisi waktu luang.

Yang harus kita ingat dan fahami betul bahwa antara  “pekerjaan/ profesi” dan “profesional” terdapat beberapa perbedaan yaitu;

1. Profesi

a)      Mengandalkan suatu keterampilan atau keahlian khusus.

b)      Dilaksanakan sebagai suatu pekerjaan atau kegiatan utama (purna waktu).

c)      Dilaksanakan sebagai sumber utama nafkah hidup.

d)     Dilaksanakan dengan keterlibatan pribadi yang mendalam.

2. Profesional

a)      Orang yang tahu akan keahlian dan keterampilannya.

b)      Meluangkan seluruh waktunya untuk pekerjaan atau kegiatannya itu.

c)      Hidup dari situ.

d)     Bangga akan pekerjaannya.

Secara umum ada beberapa ciri atau sifat yang selalu melekat pada profesi, yaitu :

  1. Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
  2. Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
  3. Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
  4. Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untuk menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.
  5. Kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi.

Dengan melihat ciri-ciri umum profesi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa kaum profesional adalah orang-orang yang memiliki tolak ukur perilaku yang berada di atas rata-rata. Di satu pihak ada tuntutan dan tantangan yang sangat berat, tetapi di lain pihak ada suatu kejelasan mengenai pola perilaku yang baik dalam rangka kepentingan masyarakat. Seandainya semua bidang kehidupan dan bidang kegiatan menerapkan suatu standar profesional yang tinggi, bisa diharapkan akan tercipta suatu kualitas masyarakat yang semakin baik.

Selain itu, sebuah profesi harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Melibatkan kegiatan intelektual.
  2. Menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus.
  3. Memerlukan persiapan profesional yang alam dan bukan sekedar latihan.
  4. Memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan.
  5. Menjanjikan karir hidup dan keanggotaan yang permanen.
  6. Mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi.
  7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
  8. Menentukan baku standarnya sendiri, dalam hal ini adalah kode etik.

Pustakawan sebuah Profesi?

lmu pengetahuan semakin berkembang seirama perkembangan intelektual dan kultur manusia. Pengembangan itu akan melahirkan spesifikasi dan spesialisasi baru, disamping juga akan terjadi pergeseran nilai bahkan konflik sains dan konflik sosial. Konflik ini bukan saja antarbidang tetapi dapat terjadi interbidang itu sendiri.

Untuk mengantisipasi konflik dan mengarahkan perkembangan bidang, maka lahirlah etika profesi yang kadang disebut dengan kode etik. Dari sinilah lahir kode etik wartawan, kode etik dokter, kode etik hakim, dan lainnya. Adapun kode etik pustakawan di Indonesia disebut Kode Etik Pustakawan Indonesia yang terdiri dari 6 bab. Profesi bukan sekedar pekerjaan/vacation, akan tetapi suatu pekerjaan yang memerlukan keahlian/expertise, tanggung jawab/responsibility, dan kesejawatan/corporateness. Profesi informasi (termasuk pustakawan) memerlukan variable-variabel, pengembangan pengetahuan, penyediaansarana/insititusi, asosiasi, dan pengakuan oleh khalayak.

Profesi pustakawan pada jaman Mesir Kuno telah diakui dan memiliki kedudukan tinggi dalam pemerintahan dan mereka telah berpengalaman tinggi dan ahli bahasa. Profesi pustakawan di Indonesia secara resmi diakui berdasarkan SK MENPAN No. 18/MENPAN/1988 dan diperbaharui dengan SK MENPAN No. 33/MENPAN/1990, yang kemudian diperkuat dengan keputusan-keputusan lain yang berkaitan dengan kewajiban dan hak sebagai profesi dan fungsional pustakawan.

Pengembangan suatu profesi dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, budaya, ilmu dan teknologi yang dapat dibagi dalam 10 indikator yakni:

1. Tingkat kebutuhan masyarakat;

2. Standar keahlian;

3. Selektivitas keanggotaan;

4. Kemauan untuk berkembang;

5. Hubungan profesi dan ilmu pengetahuan;

6. Institusi;

7. Tingkat pendidikan;

8. Kode etik;

9. Pengamalan ilmu pengetahuan

10. Organisasi profesi

Profesi pustakawan pada mulanya menimbulkan pro dan kontra, sebab untuk menentukan suatu bidang itu termasuk profesi atau bukan perlu ditetapkan kriteria-kriteria tertentu yakni:

1. Memiliki Pola Pendidikan Tingkat Akademik

Pendidikan profesi tidak cukup hanya dengan penataran, tetapi perlu adanya pendidikan tingkat perguruan tinggi, baik tingkat Diploma, Strata 1, Strata 2, maupun Strata 3. Kini telah banyak perguruan tinggi yang membuka jurusan/program studi perpustakan antara lain di UGM, IAIN Sunan Kalijaga, UI, UNPAD, UNAIR, UNS, YARSI, dan lainnya.

2. Berorientasi pada jasa

Profesi pustakawan bergerak di bidang ilmu pengetahuan dan informasi untuk meningkatkan kehidupan intelektual masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu profesi ini pada mulanya bergerak dalam bidang sosial dan dalam perkembangannya sangat mungkin menuju pada orientasi keuntungan dalam batas-batas tertentu.

3. Tingkat Kemandirian

Tugas-tugas profesi pustakawn tidak harus dikerjakan di kantor atau tergantung pihak lain (atasan, pemakai, dan lainnya). Pustakawan dapat mengerjakan tugas-tugas kepustakawanan itu secara mandiri di manapun (apabila mau) misalnya menulis artikel, menulis buku, menyusun abstrak, membuat terjemahan, meresensi, menyampaikan makalah, maupun melakukan penyuluhan.

4. Memiliki Kode Etik

Kode etik ini disusun untuk mengembangkan dan mengarahkan perkembangan profesi. Apabila seorang profesional melanggar kode etik, maka dia akan ditegur, diperingaktkan, bahkan mungkin diberi sanksi oleh organisasi profesinya. (dalam hal ini IPI). Ikatan Pustakawn Indonesia telah memiliki kode etik yang dikenal dengan Kode Etik Pustakawan Indonesia.

5. Memiliki Batang Tubuh Ilmu Pengetahuan/Body of Knowledge

Ilmu perpustakaan telah berkembang dan selalu berkembang yang dalam perkembangannnya akan melahirkan cabang dan ranting dari pohon ilmu perpustakan dan informasi. Cabang dan ranting itu telah dipelajari di berbagai penataran, magang, dan pendidikan formal perpustakaan, misalnya: katalogisasi, klasifikasi, sirkulasi, pendidikan pemakai, dan lainnya.

6. Memiliki organisasi keahlian

Organisasi ini berfungsi merupakan media/alat untuk mengembangkan bidang, memajukan kualitas, mengusahakan kesejahteraan anggota, dan mengarahkan profesionalisme anggota. Bahkan organisasi inilah yang menetapkan kode etik profesi dan melaksanakan sanksi atas pelanggaran etika itu.

Di Inggris lahir organisasi pustakawan dengan nama Library Association/LA yang memiliki kewenangan kualifikasi pustakawan. Organisasi ini lahir tahun 1877 dan kini bermarkas di London dan pada tahun 1898 memperoleh Royal Charter dari Pemerintah Inggris. Pada mulanya organisasi ini memiliki sedikit anggota, tetapi dari tahun ke tahun semakin bertambah sehingga menjadi sekitar 35.000 anggota pada tahun 1988. Library Association ini menyelenggarakan penataran, magang, kursus penyegar, pendidikan dan menerbitkan direktori pustakawan yang disebut chartered librarians.

Pada umumya intansi/lembaga di Inggris apabila ingin menerima tenaga pustakawan, lebih dulu menanyakannya ke chartered librarians tersebut apakah yang bersangkutan telah tercatat sebagai anggota atau belum. Organisasi ini juga menerbitkan Library and Information Science Abstracts/LISA, Library Association Record, dan Journal of Librarianship.

Di Amerika juga terdapat organisasi serupa bernama American Library Association/ALA yang merupakan organisasi pustakawan tertua di dunia. Organisasi ini berdiri tanggal 6 Oktober 1876 di Philadelphia, dibentuk melalui kongres pustakawan yang dihadiri oleh Kossuth Melvil Dewey seorang penemu sistem klasifikasi persepuluhan. Organisasi profesi ini memiliki 3 (tiga) divisi yakni Chidren’s Service Division, Library Administration Division, dan Young Adult Service Division. Divisi=divisi ini bertugas untuk melaksanakan program ALA, menyusun pedoman berbagai bidang kegiatan (katalogisasi, klasifikasi, jasa rujukan, dan lainnya), menyelenggarakan pendidikan, penataran, dan pertemuan ilmiah. Disamping itu dengan Acreditation Committee, ALA sangat berperan dalam proses pendidikan pustakawan di Amerika.

American Libraies (terbit 11 kali/tahun) merupakan salah satu publikasi ALA disamping juga menerbitkan buku-buku dan laporan-laporan. Beberapa kemajuan yang dicapai ALA antara lain:

a. Meningkatnya perhatian masyarakat pada perpustakaan

b. Gaji pustakawan yang memadai

c. Penetapan standar yang tinggi pada pendidikan pustakawan dan jasa perpustakaan

d. Peningkatan sumbangan donatur dan industri dalam pengembangan perpustakaan

e. Peningkatan usaha untuk membantu negara lain dalam perencanaan jasa perpustakaan.

Kecuali ALA, di Amerika juga ada organisasi perpustakaan menurut negara-negara bagian misalnya; Ohio Library Association, South East Regional Library Association, Music Library Association, Special Library Association/SLA, maupun Association of College and Research Libraries.

Indonesia

Di Indonesia juga terdapat organisasi profesi pustakawan bernama Ikatan Pustakawan Indonesia/IPI (baca IPEI) yang dibentuk di Ciawi Bogor dalam Kongres Pustakawan se Indonesia pada tanggal 5 – 7 Juli 1973. Namun demikian sebelum organisasi ini dibentuk, di Indonesia telah berdiri beberapa organisasi perpustakaan maupun pustakawan, baik jaman Belanda, menjelang kemerdekaan, atau sebelum terjadinya kongres tersebut.

Kode Etik Pustakawan Indonesia

Berkat rakhmat Tuhan Yang Maha Esa, Indonesia telah mencapai  kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.Dalam rangka mencapai tujuan kemerdekaan nasional, yakni  mewujudkan masyarakat adil makmur yang merata dan  berkesinambungan material dan spiritual, diperlukan warganegara  Indonesia yang berkeahlian dalam berbagai bidang termasuk  pustakawan yang setia dan taat kepada Pancasila dan Undang‑undang  Dasar 1945.

Pustakawan yang telah sepakat bergabung dalam organisasi  profesi Ikatan Pustakawan Indonesia dengan niat yang luhur serta  penuh kesungguhan mengabdikan dirinya dengan jalan memberikan  pelayanan perpustakaan, dokumentasi dan informasi dengan tujuang  meningkatkan pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat, bangsa dan  negara.

Menyadari eksistensi serta peranannya dalam masyarakat,  dengan ini Ikatan Pustakawan Indonesia mengikrarkan Kode Etik  Pustakawan Indonesia.

BAB I

Pengertian Pustakawan

Pustakawan adalah seorang yang melaksanakan kegiatan  perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat  sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu  perpustakaan, dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui  pendidikan.

BAB II

Kewajiban Umum

  1. Pustakawan Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa  profesi pustakawan adalah profesi yang terutama  mengembangkan tugas pendidikan dan penelitian.
  2. Setiap Pustakawan Indonesia dalam menjalankan profesinya  menjaga martabat dan moral serta mengutamakan pengabdian  pada negara dan bangsa.
  3. Setiap Pustakawan Indonesia menghargai dan mencintai  kepribadian dan kebudayaan Indonesia.
  4. Setiap Pustakawan Indonesia mengamalkan ilmu pengetahuannya  untuk kepentingan sesama manusia, masyarakat, bangsa dan  agama.
  5. Setiap Pustakawan Indonesia menjaga kerahasiaan informasi  yang bersifat pribadi yang diperoleh dari masyarakat yang  dilayani.

BAB III

Kewajiban Kepada Organisasi dan Profesi

1.         Setiap Pustakawan Indonesia menjadikan Ikatan Pustakawan  Indonesia sebagi forum kerjasama, tempat konsultasi dan  tempat pengemblengan pribadi guna peningkatan ilmu  pengembangan profesi antara sesama pustakawan.

2. Setiap Pustakawan Indonesia memberikan sumbangan tenaga,  pikiran dan dana kepada organisasi untuk kepentingan  pengembangan ilmu dan perpustakaan di Indonesia.

3. Setiap Pustakawan Indonesia menjauhkan diri dari perbuatan  dan ucapan serta sikap dan tingkah laku yang merugikan  organisasi dan profesi, dengan cara menjunjung tinggi nama  baik Ikatan Pustakawan Indonesia.

4. Setiap Pustakawan Indonesia berusaha mengembangkan  organisasi Ikatan Pustakawan Indonesia dengan jalan selalu  berpartisipasi dalam setiap kegiatan di bidang perpustakaan  dan yang berkaitan dengannya.

BAB IV

Kewajiban Antarasesama Pustakawan

1. Setiap Pustakawan Indonesai berusaha memelihara hubungan  persaudaraan dengan mempererat rasa solidaritas antara  Pustakawan.

2. Setiap Pustakawan Indonesia saling membantu dalam berbuat  kebijakan dalam mengembangkan profesi dan dalam melaksanakan  tugas.

3. Setiap Pustakawan Indonesia saling menasihati dengan penuh  kebijaksanaan demi kebenaran dan kepentingan pribadi,  organisasi dan masyarakat.

4. Setiap Pustakawan Indonesia saling menghargai pendapat dan  sikap masing‑masing, meskipun berbeda.

BAB V

Kewajiban Terhadap Diri Sendiri

1.  Setiap Pustakawan Indonesia selalu mengikuti perkembangan  ilmu pengetahuan, terutama ilmu perpustakaan, dokumentasi  dan informasi.

2. Setiap Pustakawan Indonesia memelihara akhlak dan kesehatan‑  nya untuk dapat hidup dengan tenteram dan bekerja dengan  baik.

3. Setiap Pustakawan Indonesia selalu meningkatkan pengetahuan  serta keterampilannya, baik dalam pekerjaan maupun dalam  pergaulan di masyarakat.

BAB VI

Pelaksanaan Kode Etik

Setiap Pustakawan Indonesia mempunyai tanggung jawab moral untuk  melaksanakan Kode Etik ini dengan sebaik‑baiknya.

Allerton Park Institute. Ethics and the librarian.  Urbana,Illinois: University of Ilinois

Graduate School of Library and Information Science, 1991.

America Library Association. “Statement on professional ethics adopted ny ALA

Council, June 30, 1981.” American Libraries, 13, October 1982:595

Arlante, S.M. and R. Y. Tarlis. “The professionalization of librarians: a unique

Bayles, M. D.   Profesional ethics.  2nd ed.  Belmont, Calif.: Wadsworth, 1989.

Bekker, J.Professional ethics and its application to librarianship.  Unpublished

dissertation, Case Western Reserve University [Cleveland,Ohio], 1976.

Finks, Lee W. And Elisabeth Soekefeld. Encyclopedia             of Library and Information

Science. vol 52 supplement  15, 1993 s.v. “Professional ethics,”

Hauptman, R. Ethical challenges in librarianship.  Phoenix, A: Oryx Press, 1988

Kochen, M.      “Ethics and information science,” Journal of the American Society for Information Science, 38, May 1987:206-10

Kultgen, J. H. Ethics and professionalism.  Philadelphia, PA: University of Pennsylvania ,   Press, 1988.

Library Association of Singapore. Code of ethics.http://www.faife.dk/lascode.htm. 24 November 2000

Magnis-Suseno, Franz. Etika sosial.  Jakarta: APTIK bekerja sama dengan Gramedia  Pustaka Utama, 1991.

Pendit, Putu (a) . Kode etik. 20 November 2000. i_c_s@groups.com.   Akses tgl 27 November 2000.

Pendit, Putu (b). Kode etik (2). 21 November 2000. i_c_s@egroups.com. 27 November 2000.

Pendit, Putu. Sangsi moran (Re:saran dan komentar untuk Kode Etik). 27 Nov. 200.

i_c_s@egroups.com. 28 November 2000

Persatuan Pustakawan Malaysia (Librarians Association of Malaysia). Code of ethics.

http://www.faife.uk/ethics/faifecode. 22 November 2000.

Professional Regulation Commission of the Republic of Philippines. Code of ethics for registered librarians.  1992. http://www.faife.dk/ethics/bbcode   24 November 2000

Prins, Hans and Wilco de Gier. “Image, status and reputation of librarianship and  information work,”IFLA Journal, 18 (2) 1992:108-118