PENELITIAN TINDAKAN BAGIAN II

PENELITIAN TINDAKAN

BAGIAN II

Encang Saepudin

A.    Jenis-jenis Penelitian Tindakan

Penelitian tindakan menurut Kemmis dan Tagart (1988) dibai ke dalam empat jenis, yaitu:

1.      Penelitian tindakan diagnosis

Peneliti masuk ke dalam situasi yang telah ada serta mendiagnosis situasinya. Selanjutnya peneliti membuat beberapa rekomendasi mengenai tindakan perbaikannya. Rekomendasi itu sendiri tidak diuji sebelumnya, namun dihasilkan berdasarkan kumpulan pengalaman masa lalu dan hasil diagnosis saat itu.

2.      Penelitian tindakan partisipan

Orang yang akan melaksanakan penelitian tindakan harus terlibat dalam proses penelitian dari awal, sehingga dpat disadari perlunya melaksanakan program tindakan tertentu dan dapat menghayatinya. Tanpa kolaborasi ini diagnosis dan rekomendasi tindakan untuk mengubah situasi tidak akan mendorong adanya perubahan yang diharapkan.

3.      Penilitian tindakan empiris

Melakukan sesuatu dan membakukan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi. Proses penelitian intinya berkenaan dengan penyimpanan catatan dan pengumpulan pengalaman dalam pekerjaan sehari-sehari.

4.      Penelitian eksperimental

Dalam penelitian ini, teknik tindakan terkontrol secara efektif. Penelitian ini memiliki nilai potensi tinggi untuk kemajuan pengetahuan ilmiah. (Zuriah: 86)

  

B.     Model-model penelitian Tindakan

Model penelitian tindakan pertama kali dibuat oleh Kurt Lewin (1940). Model tersebut didasarkan atas atas dasar bahwa penelitian tindakan terdiri dari empat komponen pokok yang sekaligus menunjukan langkah-langkah penelitian, yaitu:

1         Perencanaa (Planning)

2         Tindakan (acting)

3         Pengamatan (observing)

4         Refleksi (reflecting)

Hubungan antara keempat komponen tersebut menunjukan sebuah siklus (kegiatan) berkelanjutan dan berulang. Siklus inilah yang sebenarnya menjadi salah satu cirri utama penelitian tindakan, sehingga tidak dilakukan dalam satu kali intervensi saja (Arikunto, 2002: 82).

Bentuk visualisasi dari model penelitian tindakan kurt Lewin tersebut dapat digambarkan pada gambar 3.1 berikut ini.

Sumber: Arikunto, 2002: 84

Gambar 3.1 Model penelitian tindakan Kurt Lewin

Model Kurt Lewin diatas selanjutnya dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Tagart (1988) yang memandang komponen sebagai langkah dalam siklus, sehingga mereka menyatukan komponentindakan dan pengamatan sebagai satu kesatuan. Hasil pengamatan ini kemudian di jadikan sebagi dasar langkah berikutnya yaitu refleksi (mencermati apa yang sudah terjadi). Selanjutnya ddisusun sebuah modifikasi yang diaktualisasikan dalam bentuk rangkaian tindakan dan pengamatan lagi, begitu seterusnya.

Model penelitian tindakan yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Tagart digambarkan dalam Gambar 3.1.2.

 

(Arikunto, 2002: 84)

Gambar 3.2 Model penelitian tindakan Kemmis dan Kc Taggart

Pada proses transformasi informasi dalam pembuatan paket informasi terseleksi, peneliti menggunakan metode penelitian tindakan dengan mengadopsi model yang dikembangkan oleh Kmmis dan Mc Tagart

 

 

 

 

C.     Prosedur Penelitian Tindakan

Prosedur penelitian tindakan secara umum dibagi atas 8 (delapan) tahap, Yaitu :

1

Tahap I

:

Identivikasi-evaluasi-formulasi masalah yang dipandang kritis    dalam situasi sehari-hari

2

Tahap II

:

Diskusi pendahuluan atau perundingan diantara kelompok yang berminat/terlibat

3

Tahap III

:

kajian pustaka, jumlah penelitian yang relevan dalan hal sasaran, prosedur dan masalah.

4

Tahap IV

:

modivikasi rumusan awal masalah.

5

Tahap V

:

Pemilihihan prosedur penelitian, administrasi penelitian dan tindakannya, pemilihan bahan

6

Tahap VI

:

Pemilihan prosedur evaluasi dan melaksanakan prinsip    konstinuitas serta menetapkan sasaran evaluasi.

7

Tahap VII

:

Pelaksanakan proyek penelitian tindakan

8

Tahap VIII

:

Pemaknaan data, penarikan inferensi dan penilaian seluruh proyek penelitian serta diskusi penemuan berdasarkan kriteria yang telah disetujui. (Zuriah, 2003 : 84)

Operasionalisasi dalam penelitian tindakan oleh peneliti umumnya dari tahap refleksi awal untuk melakukan studi pendahuluan yang diikuti dengan perencanaan, tindakan  observasi, dan refleksi. Secara singkat tahapan operasionalisasi tersebut digambarkan dalam Gambar 3.3.

 

  Tahap I              TAHAP II                  TAHAP III                 TAHAP IV

  Refleksi             perencanaan                Tindakan –                 Refleksi

    (Ra)                      (P-T)                          Observasi                         (R)

                                                             (T-O)

 

 

(Zuriah, 2003: 84)

Gambar 3.3 Operasional tahapan penelitian tindakan

Tahap-tahap ini  nantinya akan menjadi dasar pelaksanaan proses transformasi informasi dalam pembuatan paket informasi terseleksi. Selanjutnya tahapan-tahapan ini tersebut akan diuraikan sebagai berikut :

1. Tahap (Refleksi awal)

Tahap ini dilakukan setelah tema penelitian dirumuskan dan mendahului rencana awal, sehingga disebut sebagai tahap khusus. Dalam tahap ini dilakuka kegiatan penjagaan dimanfaatkan untuk mengumpulkan informasi tentang situasi-situasi yang relevan dengan tema penelitian. Penjagaan bertujuan untuk mengungkapkan dan menyadarkan diri peneliti akan adanya permasalahan yang perlu dipecahkan. Peneliti melakukan pengamatan pendahuluan untuk mengenali dan mengetahui situasi yang sebenarnya.

Berdasarkan hasil pengamatan pendahuluan, dapat diidentifikasikan permasalahan-permasalahan yang ada sekaligus ditentukan prioritasnya. Permasalahan tersebut dapat berupa wawasan konseptual, sikap, kecendurangan maupun yang bersifat teknis. Pemahaman terhadap hal-hal ini akan memandu untuk sampai pada permasalahan yang di hadapi. Selanjutnya dari permasalahan tersebut akan dapat ditentukan tema peneitian yang akan memberikan arah bagi penentuan tujuan serta memperoleh tindakan (subyek penelitian).

2. Tahap II (Perencanaan)

Penyususnan perencanaan didasarkan dari hasil penjagaan tentang situasi. Berdasrkan hasil studi pendahuluan nantinya akan dapat diidentifikasi sejumlah permasalahan. Permasalahan yang dujumpai, dijabarkan serinci mungkin yang selanjutnya dituangkan dalam suatu rencana. Secara rinci perencanaan tersebut berisi tentang apa yang dilakukan beserta rasionalnya, siapa yang akan melakukan, dimana, kapan, dan bagaimana kegiatan penelitian dilakukan.

Kegiatan tahap perencanaan ini akan melahirkan gambaran umum tentang rencana penelitian tindakan, yaitu :

a. Gambaran tema penelitian berdasrkan alasan pemilihannya

b. Gambaran tentang subyek penelitian beserta alasana pemilihannya

c. Rasional singkat tentang rencana perubahan yang akan dilakukan

d. Rincian kegiatan yang mencakup apa yang dilakukan, siapa yang melakukan, kapan dan bagaimana melakukannya.

e. Gambaran tentang cara melakukan perubahan terhadapa sesuatu yang sedang berjalan.

f. Gambarab tentang rencana tindakan dan efek yang akan menyertainya

g. Gambaran tentang cara memonitor efek dari rencana tindakan yang akan dilakukan

h. Gambaran tentang proses pengumpulan data, analisis data dan refleksinya. (Zuriah, 2003:78)

Secara teknis, rancangan penelitian memuat penetapan bukti atau indicator yang menunjukan seberapa jauh masalah yang dipilih dapat dipecahkan melalui tindakan yang dilakukan. Selain itu, memuat juga perumusan rancangan tindakan sebagai acuan dalam melakukan tindakan beserta rancangan evaluasinya , perancangan alat dan metode dalam pendokumentasian data atau informasi yang relevan dan perencanaan metode pengolahan data. Perencanaan bersipat lentur, artinya dapat berubah sesuai dengan kondisi nyata yang ada dilapangan. Oleh karena itu peneliti dituntut untuk selalu siap menghadapi perubahan-perubahan yang mungkin terjadi.

 

3. Tahap III (Tindakan dan Pengamatan)

Tahap ini merupakan penjabaran rencana ke dalam tindakan dan mengamati jalannya tindakan. Umpan balik perlu segera dilakukan sebagai bahan untuk segera dimemodifikasi rencananya. Pada saat tindakan dilaksanakan, kegiatan pengamatan yang cermat dan produktif perlu dilakukan, sehingga diperoleh data

Untuk refleksi. Kegiatan pengamatan dimaksudkan untuk mengenali, merekam, mendokumentasikan semua indicator (baik proses maupun hasil) perubahan-perubahan yang terjadi sebagai akibat dari tindakan terencana atau sebagai efek sampingnya.

Pada tahap ini, peneliti melakukan konsep-konsep dalam proses tranformasi informasi yang digunakan dalam pembuatan paket informasi terseleksi. Sekaligus dalam tahap ini peneliti melakukan pengamatan berkaitan dengan produk yang akan dihasilkan.

 

4. Tahap IV (Refleksi)

Tahap ini melibatkan kegiatan menganalisis, mensintesis, memaknai, menjelaskan dan menyimpulkan. Kegiatan refleksi dipandang sebagi upaya untuk memahami dan memaknai proses dan hasil yang dicapai sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan. Hasil dari kegiatan refleksi adalah informasi tentang apa yang terjadi dan apa yang perlu dilakukan.

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s