KEBIJAKAN SELEKSI GUNA MENDUKUNG KEGIATAN PENGEMBANGAN KOLEKSI

KEBIJAKAN SELEKSI GUNA MENDUKUNG KEGIATAN PENGEMBANGAN KOLEKSI

 Oleh

Encang Saepudin

Sebuah paradigma baru menyimpulkan bahwa, salah satu kriteria penilaian layanan perpustakaan yang bagus adalah dilihat dari kualitas koleksinya. Koleksi yang dimaksud tentu saja mencakup berbagai format bahan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan alternatif para pemakai perpustakaan terhadap media rekam informasi. Setiap kegiatan lain di perpustakaan akan bergantung pada pemilikan koleksi perpustakaan yang bersangkutan. ( Ade Kohar, 2003 )

Oleh karena itu, koleksi yang ada – sebagai kekulatan utama perpustakaan -  perlu dikembangan dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat penggunanya. Menurut ALA Glossary of Library and Information Science (1983) pengembangan koleksi merupakan sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan penentuan dan koordinasi kebijakan seleksi, menilai kebutuhan pemakai, studi pemakaian koleksi, evaluasi koleksi, identifikasi kebutuhan koleksi, seleksi bahan pustaka, perencanaan kerjasama sumberdaya koleksi, pemeliharaan koleksi dan penyiangan koleksi perpustakaan.

Sedangkan menurut  Prof.  Dr. Sulistyo Basuki pengertian pengembangan koleksi lebih ditekankan pada pemilihan buku. Pemilihan buku artinya memilih buku untuk perpustakaan. Pemilihan buku berarti juga proses menolak buku tertentu untuk perpustakaan. Selanjutnya pengertian pengembangan koleksi mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan bidang kepustakawanan. Pengembangan koleksi, seleksi dan pengadaan menjadi istilah-istilah yang saling melengkapi.

Tujuan pengembangan koleksi yaitu membangun koleksi yang sesuai dengan kebutuhan pemakai dan didayagunakan secara optimal. Pengembagan koleksi merupakan kegiatan yang sangat  penting dalam perpustakaan terutama  untuk memperluas koleksi yang ada.  Pengembangan koleksi ini terutama berkaitan dengan pemilihan dan evaluasi. Pemilihan adalah proses mengidentifikasi rekaman informasi yang akan ditamabhkan pada koleksi yang telah ada di perpustakaan, sedangkan pengembangan koleksi. Evaluasi mencakup semua upaya untuk mengetahui sejauh mana tujuan dari seluruh rangkaian kegiatan pemilihan, pengadaan, dan pemeliharaan koleksi telah mencapai.

Pedoman untuk mengevaluasi koleksi perpustakaan yang dikeluarkan oleh American Library Association membagi metode kedalam ukuran-ukuran terpusat pada koleksi dan ukuran-ukuran terpusat pada penggunaan. Didalam setiap kategori ada sejumlah metode evaluasi khusus. Perpustakaan perlu melakukan evaluasi koleksi secara periodik dan sistematik untuk memastikan bahwa koleksi itu mengikuti perubahan yang terjadi, dan perkembangan kebutuhan dari masyarakat  yang dilayani.

Dalam melakukan pengembangan koleksi, pustakawan harus mengetahui betul tujuan perpustakaan yang dikelolanya serta masyarakat yang dilayaninya. Pada dasarnya tujuan perpustakaan  adalah untuk  memenuhi kebutuhan pendidikan dan pengajaran, penelitian, social, informasi religi, rekreasi, dan deposit.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pemakai, perpustakaan harus mampu mengkaji / mengenali siapa masyarakat pemakainya dan informasi apa yang diperlukan, mengusahakan tersedianya jasa pada saat diperlukan, serta mendorong pemakai untuk menggunakan fasilitas yang telah disediakan oleh perpustakaan. Dengan adanya aktivitas kebijakan seleksi akan dapat membantu perpustakaan dalam mengidentifikasi rekaman informasi yang ada di dalam perpustakaan itu sendiri.

Setiap perpustakaan melayani kelompok pemakai dengan ciri-ciri khas tertentu, dan perlu merencanakan jasa-jasa serta koleksi yang sesuai dengan kebutuhan pemakainya. Oleh karena itu, pengetahuan yang mendalam mengenai masyarakat yang dilayani harus dimiliki oleh pustakawan. Cara informal dan cara formal dapat ditempuh oleh pustakawan guna melakukan kajian mengenai pemakai. Sambil melakukan kegiatan sehari-harinya pustakawan dapat mengobservasi pemakainya, misalnya dengan rajin membaca surat kabar lokal dengan memperhatikan berita tentang kegiatan dan kejadian setempat, mengetahui organisasi-organisasi apa saja yang ada dalam wilayahnya dan apa kegiatan organisasi tersebut, dsb. Dengan melakukan hal-hal tersebut pustakawan sudah mendapat gambaran tentang apa yang kira-kira diperlukan oleh pemakainya.

Namun, cara informal sering menghasilkan gambaran yang subjektif, karena terbatas pada apa yang diobservasi oleh satu orang atau beberpa orang tertentu, sehingga apa yang diamati belum tentu mewakili kondisi seluruh masyarakat. Oleh karena itu cara informal ini perlu dilengkapi denga cara yang lebih formal yaitu mengadakan survai atau studi khusus (community analysis) yang akan menghasilkan profil masyarakat (community profile) yang harus dilayani.

Pendekatan secara  formal dapat menghasilkan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai masyarakat, sehingga pustakawan dapat menempatkan apa yang telah mereka ketahui dalam kerangka yang lebih luas. Jenis data yang diperklukan adalah data mengenai aspek-aspek: historis, geografis, transportasi, administratif, politik, demografi, ekonomi, komunikasi dan media massa, organisasi/lembaga sosial dan pendidikan, organisasi/lembaga kebudayaan dan fasilitas rekreasi, serta perpustakaan atau unit informasi lain dalam wilayah administrasi yang sama.

Pengembangan koleksi merupakan proses memastikan bahwa kebutuhan informasi dari para pemakai akan terpenuhi secara tepat waktu dan tepat guna ( efisien-efektif ) dengan memanfaatkan sumber-sumber informasi yang dihimpun oleh perpustakaan. Sumber-sumber informasi tersebut harus dikembanngkan sebaik-baiknya sesuai dengan kondisi perpustakaaan dan masyarakat yang dilayani. Dalam hal ini kebijakan seleksi menjadi asfek utama dalam pengembangan koleksi.

 

A.     Kebijakan pengembangan koleksi

Isi kebijakan dimulai dengan penjelasan singkat mengenai visi, misi perpustakaan, dan sasaran yang ingin dicapai, deskripsi singkat tentang masyarakat yang dilayani dan koleksi yang telah ada. Dilanjutkan dengan:

1. Penjelasan mengenai siapa yang bertanggungjawab atas pengelolaan perpustakaan dan siapa yang diberi wewenag untuk seleksi

2. Metode pemilihan, pengaturan anggaran, komposisi masyarakat yang dilayani dan prioritas (jika ada), dan informasi lain yang dianggap perlu, misalnya:

a. Pedoman dan kriteria seleksi

b. Daftar timbangan buku (review) atau tipe timbangan buku yang digunakan untuk seleksi.

3. Masalah-masalah khusus, mis: bahan yang tidak dikoleksi, jumlah eksemplar/judul, penjilidan, penggantian bahan yang hilang, dll.

4. Penjelasan mengenai komposisi koleksi yang akan dikembangkan, dibagi atas bidang subjek dan keterangan mengenai prioritas.

 

Tiap bidang subjek disarankan dirinci sbb.:

a. tingkat kedalaman/kelengkapan

- koleksi yang sudah ada

- penambahan yang sedang berjalan

- penambahan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan/atau program yang ada

b. Bahasa

c. Cakupan periode

d. Cakupan geografis

e. Format yang akan dibeli/tidak dibeli

f. Siapa yang bertanggungjawab atas seleksi

5.  Bahan berbahasa asing

6. Jenis bahan perpustakaan berdasarkan format, definisi tiap jenis dan kategorinya, keterangan mana yang dibeli dan mana yang tidak, pentingnya bahan tersebut bagi koleksi atau pemakai

7.  Penanganan hadiah

8.  Pinjam antar perpustakaa, jaringan dan bentuk kerjasama lain yang berpengaruh pada pengembangan koleksi

9.  Kriteria dan cara penyiangan

10. Sikap perpustakaan terhadap sensor dan masalah lain yang berkaitan dengan kebebasan intelektual (intellectual freedom)

 

 

Fungsi kebijakan pengembangan koleksi tertulis:

1.  Pedoman bagi selektor

2.  Sarana komunikasi: memberitahu pemakai mengenai cakupan dan ciri-ciri koleksi yang telah ada dan rencana pengembangannnya

3.  Sarana perencanaan baik perencaan anggaran maupun pengembangan koleksi

4.  Membantu menetapkan metode penilaian bahan

5.  Membantu memilih metode pengadaan

6.  Membantu menghadapi masalah sensor

7.  Membantu perencaan kerjasama

8.  Membantu identifikasi bahan yang perlu dipindahkan ke gudang atau dikeluarkan dari koleksi (evaluasi)

B. KEBIJAKAN SELEKSI

Secara umum seleksi diartikan sebagai tindakan, cara, atau proses memilih. Dalam hubungannya dengan pengembangan koleksi seleksi merupakan kegiatan yang menyangkut perumusan kebijakan dalam memilih dan menentukan bahan pustaka mana yang akan diadakan serta metode-metode apa yang akan diterapkan kepada koleksi tersebut. Kebijakan seleksi sendiri harus mampu dalam mengkomunikasikan tujuan dan kebijakan pengembangan koleksi itu sendiri.

1.      Prinsip Seleksi

Persoalan yang sangat penting dalam seleksi ialah menetapkan dasar pemikiran atau strating point umtuk kegiatan ini. Perpustakaan akan menetukan pilihan apakah mengutamakan kualitas( nilai intrinsik bahan pustaka ) ataukah mengutamakan penggunaan ( bahan pustaka yamg akan digunakan atas permintaan pemakai ). Dalam hal ini peran seorang pustakawan adalah sangat besar, karena menyeleksi suatu bahan pustaka adalah tidak gampang, butuh keahlian dan pengetahuan yang tidak sedikit.

1.      Pandangan Tradisional

Prinsip ini mengutamakan nilai intrinsik untuk bahan pustaka yang akan dikoleksi perpustakaan. Titik tolak yang mendasari prinsip ini ialah pemahaman bahwa perpustakaan merupakan tempat untuk melestarikan warisan budaya dan sarana untuk mencerdaskan masyarakat. Apabila dinilai tidak bermutu, bahan pustaka tidak akan dipil untuk diadakan.

2.      Pandangan Liberal

Prioritas pemilihan didasarkan atas popularitas. Artinya, kualitas tetap diperhatikan, tetapin dengan lebih mengutamakan pemilihan karena disukai dan banyak dibaca atau mengikuti selera masyarakat pemakai.

3.      Pandangan Pluralistik

Prinsip yang dianut pandangan ini berusaha mencari keselarasan dan keseimbangan diantara kedua pandangan tersebut, baik tradisional maupun liberal.

 

2.      Kriteria Seleksi

Apaun kriteria yang ditetapkan oleh suatu perpustakaan, criteria seleksi tersebut harus ditungkan secara jelas dalam kebijakan pengembangan koleksi. Hal ini tentu saja memudahkan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul. Misalnya, mengapa bahan pustaka tertentu harus dipilih? Kriteria itu dapat menjadi pegangan dalam mempertimbangkan nilai intrinsic bahan pustaka.

David Spiller (1982 : 83-90) mengungkapkan secara umum kriteria-kriteria yang diterapkan dalam seleksi, yaitu :

1.      Tujuan, Cakupan, dan kelompok Pembaca

Bahan pustaka yang akan dipilih hrus mempertimbangkan secara sungguh-sungguh kesesuaiannya dengan tujuan, cakupan, dan kelompok pembaca.

2.      Tingkatan Koleksi

Tingkatan koleksi menjadi salah satu faktor utama untuk menentukan koleksi tertentu. Tingkatan mana yang diprioritaskan dapat berbeda antara satu perpustakaan dengan perpustakaan lain. Dasar perbedaan ini dapat ditimbulkan oleh adanya tipe perpustakaan yang berbeda-beda.

 

 

 

3.      Otoritas dan Kredibilitas Pengarang

Otoritas pengarang harus ditentukan secermat-cermatnya. Jika pengarang bukan pakar yang dikenal dalam bidangnya, kualifikasinya dalam penulisan buku harus diteliti dengan baik.

4.      Harga

Harga publikasi dapat diketahui melalui bibliografi. Namun, untuk mengetahui nilai intrinsic sebuah buku hanya dapat dinilai lewat buku itu sendiri. Selektor perlu mempertimbangkan secara bertabggung jawab ketika memutuskan pemilihan bahan pustaka di atas harga rata-rata. Apakah sangat dibutuhkan dan akan banyak digunakan atau tidak.

5.      Kemutakhiran

Data tentang tanggal penerbitan bahan pustaka tetap perlu direvikasi. Penerbitan bahan pustaka tertentu mungkin saja diterbitkan beberapa tahun setelah penelitian sehingga nilai intrinsik dan kemutakhirannya berkurang.

6.      Penyajian Fisik Buku

Penampilan fisik buku-buku dapat mempengaruhi keputusan seleksi. Bahan pustaka seharusnyalah bersih, rapi, dan dapat dibaca.

 

 

7.      Struktur dan Metode Penyajian

Pustakawan dengan latar belakangsubjek tertentu biasanya dapat memperoleh gam,baran tentang struktur buku melalui daftar isi.

8.      Indeks dan Bibliografi

Keberadaan bibliografi dan indeks sebuah buku dapat diketahui secara jelas lewat entri dalam bibliografi nasional. Meskipun demikian, kualitas bibliografi dan indeks akan dapat ditentukan secara tepat apabila langsung diperiksa dan dilihat pada buku itu sendiri. Catatan kaki dan daftar rujukan bias memperkuat klaim keaslian penelitian.

C. KELOMPOK PEMBACA

Ketika informasi dapat diakses oleh masyarakat diseluruh dunia, maka informasi tersebut seakan-akan menjadi kebutuhan yang berkembang dengan pesatnya. Apalagi dengan adanya internet membuat pemenuhan terhadap informasi tersebut menjadi sangat mudah dan cepat. Kemudahan mengakses berbagai informasi ini banyak dimanfaatkan dan banyak pula disalah gunakan oleh para user. Oleh karena itu kebijakan seleksi sangat diperlukan dalam pemenuhan informasi kepada masyarakat.

Pustakawan harus melihat dari kelompok pembaca yang dilayani dan yang memanfaatkan sumber informasi tersebut. Pustakawan sebagai selektor harus memiliki kriteria tertentu terhadap bahan koleksi yang akan mereka lanyangkan kepada masyarakat pengguna informasi tersebut yang dapat ditinjau dari berbagai sudut, antara lain :

1.      Usia Kelompok Pembaca

Selektor harus memiliki pengetahuan dalam menentukan bahan pustaka mana yang boleh dan tidak boleh dilayangkan kepada pembaca dengan memprediksi kesesuaian bahan pustaka tersebut dengan usia pembaca.

2.      Pendidikan Kelompok Pembaca

Seorang selektor harus memprediksi kesesuaian suatu bahan pustaka dengan pendidikan kelompok pembaca, karena beberapa kalangan pembaca tentu memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Tentu sangat tidak mungkin seseorang yang memilikki latar belakang pendidikan social disuguhi bahan pustaka yang berhubungan dengan bidang kedokteran.

3.      Keterbatasan Fisik Kelompok Pembaca

Selektor harus mampu menyeleksi bahan-bahan pustaka yang dibutuhkan oleh kelompok pembaca yang memiliki keterbatasan fisik. Misalnya dengan menyediakan bahan-bahan pustaka bagi saudara-saudara kita yang Tuna Netra.

4.      Gender Kelompok Pembaca

Seorang selektor harus mampu menyeleksi bahan-bahan pustaka dengan mellihat sudut pandang Gender kelompok pembaca tersebut, agar tecapai penyampaian informasi yang tepat sasaran.

KESIMPULAN

Perpustakaan harus mampu mempertimbangkan dan memutuskan bahan-bahan pustaka apa saja yang boleh dan tidak boleh dilayangkan kepada masyarakat. Kebijakan seleksi ini sudah jelas dapat menunjang kegiatan pengembangan koleksi. Dimana pengembangan koleksi dimaksudkan untuk membina bahan pustaka sesuai dengan kondisi perpustakaan dan masyarakat yang akan dilayani.

Kebutuhan informasi masyarakat yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya, dan sudut pandang kelompok pembaca yang berbeda-beda pula mengharuskan perpustakaan menyeleksi bahan pustaka yang akan dilayangkan. Melihat hal ini dapat dipastikan betapa seorang selektor memiliki peranan yang sangat penting di dalam pengembangan koleksi, dan tentu saja diperlukan pengetahuan yang sangat luas mengingat begitu beratnya tugas seorang selektor.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ade Kohar, 2003. Teknik Penyusunan Kebijakan Pengembangan Koleksi Perpustakaan:Suatu Implementasi Studi Retrospektif. Jakarta

 

Ade Kohar. 2005. Perpustakaan Perguruan Tinggi : Buku Pedoman. ed. ke 3. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional RI. Jakarta.

 

Dickstein, Ruth dan Hovendick, Kelly Barrick. 2002. University of Arizona Women’s Studies Collection Evaluation. http://oratt.edu/~johnso2/UArizcollectioneval.html (diambil tgl. 29 September 2006)

 

Noerhayati S. 1987. Pengelolaan Perpustakaan. Bandung : PT Alumni

Septyantono, Tri. 2003. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta : IAIN Sunan Kalijaga

Sulistyo Basuki. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

 

 

 

 

 

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s